Berkat Pertamina, UMKM Berlian Progo Jadi Tangguh
- 05 Nov 2025 18:10 WIB
- Bengkulu
KBRN, Yogyakarta – Di tengah derasnya arus modernisasi kuliner, saat makanan instan dan impor mendominasi pasar, sekelompok ibu rumah tangga di Dusun Babakan RT 02, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, memilih jalan berbeda.
Mereka mempertahankan cita rasa tradisional, namun dengan sentuhan inovasi yang luar biasa, mengolah biji kacang koro menjadi tempe koro, pangan lokal bernilai ekonomi tinggi.
Dari sebuah rumah produksi sederhana yang berdiri di tengah perkampungan, aroma khas fermentasi tempe tercium lembut. Di situlah para perempuan Babakan menyalurkan semangat dan kreativitasnya. Mereka mengubah bahan yang dulu dianggap remeh—biji koro, yang sering dianggap sekadar pakan ternak—menjadi produk pangan unggulan yang kini menembus pasar nasional bahkan ekspor ke Korea Selatan.
Rumah Produksi Berlian Progo dengan produk unggulan nya bakpia dan bacem koro ini lahir dari keprihatinan, tumbuh menjadi harapan, tepatnya lima tahun lalu, harga kedelai melambung tinggi dan stoknya sering langka. Kondisi itu membuat banyak pengrajin tempe di Bantul menjerit. Namun, di Dusun Babakan, keadaan justru melahirkan ide baru.
“Awalnya kami hanya mencoba-coba. Kedelai mahal dan susah didapat. Kami ingin cari alternatif,” tutur Winiarti, Ketua Rumah Produksi Tempe Koro Babakan, mengenang awal perjalanan mereka sambil tersenyum bangga.
Menurutnya, berbekal pelatihan pengolahan pangan dari pemerintah desa dan dukungan dana CSR Pertamina, para ibu rumah tangga mulai berkreasi. Mereka belajar mengolah biji koro yang semula keras dan beracun karena kandungan sianida, menjadi aman, empuk, dan lezat untuk di makan.
"Prosesnya ini tidak mudah. Biji koro harus melalui perendaman berhari-hari, perebusan berkali-kali, hingga fermentasi dengan ragi tempe alami. Hasilnya? Tempe koro bertekstur lembut dengan cita rasa khas yang berbeda dari tempe kedelai biasa," ungkapnya pada Rabu, (5/11/2025).

Foto : Perwakilan dari Rumah Produksi Berlian Progo memberikan penjelasan.
Pada awal berdirinya, rumah produksi ini hanya menempati dapur salah satu warga. Kini, mereka memiliki bangunan sederhana namun mandiri, berdiri di atas semangat gotong royong.
“Dulu kami hanya buat tempe mentah. Sekarang sudah ada enam produk turunan dari koro. Produk olahan itu dikemas menarik dengan label ‘Tempe Koro Babakan’, lengkap dengan izin PIRT. Desain kemasannya modern, menampilkan perpaduan antara kearifan lokal dan tampilan profesional yang siap bersaing di pasar UMKM dan supermarket," ujarnya yang juga dijelaskan kembali oleh Fitri, anggota UMKM Berlian Progo.
Bagi sebagian orang, kacang koro mungkin asing. Tanaman ini tumbuh menjalar. Di Babakan, tanaman koro sempat nyaris punah karena jarang dibudidayakan. Namun, berkat pendampingan dari UGM (Universitas Gadjah Mada), warga kembali menanam koro di lahan sekitar bantaran Sungai Progo.
“Dulu bibitnya kami dapat dari UGM. Ternyata cocok ditanam di sini dan hasilnya bagus,” ucap Winiarti kembali.
Kini, kelompok ibu-ibu tersebut bekerja sama dengan petani lokal untuk memastikan ketersediaan bahan baku yang stabil. Hasil panen koro dari lahan tersebut digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan produksi. Terlebih proses tanam hingga panen mereka awasi langsung, guna memastikan kualitas bahan tetap baik dan higienis.
Hanya saja Babakan ini tidak bisa dilepaskan dari dukungan CSR Pertamina. Melalui program pemberdayaan masyarakat, Pertamina memberikan pelatihan kewirausahaan, alat penggiling, mesin vakum, hingga pendampingan digital marketing.
“Kami sangat berterima kasih pada Pertamina. Dulu kami hanya bisa produksi kecil-kecilan, tapi setelah mendapat bantuan alat dan pelatihan, kami bisa memperluas pasar, bahkan sampai luar negeri.” ungkap Ester salah seorang anggota Rumah Produksi Berlian Progo.
Ia mengemukakan, para ibu Babakan tak ingin berhenti di satu produk. Mereka terus berinovasi. Dari tempe, mereka melangkah ke olahan lain.
“Kami berpikir, masa cuma tempe saja? Kami coba bikin tempe bacem dan kripik tempe. Ternyata banyak yang suka
Lalu dibuat tepung koro dan pukis koro, biar anak-anak juga mau makan. Apalagi produk-produk ini tak hanya dijual di pasar tradisional, tapi juga dipasarkan melalui media sosial. Akun Instagram dan TikTok," terangnya.
Diakui, rumah produksi ini menjadi wadah pemberdayaan perempuan. Dimana sebanyak 13 anggota aktif terlibat dalam kegiatan produksi setiap hari Jumat dan Sabtu. Mereka membagi tugas mulai dari perendaman, pembungkusan, hingga pemasaran. Dengan usaha ini, ibu-ibu bisa tetap di rumah, tapi punya penghasilan sendiri.
"Kami bisa bantu ekonomi keluarga tanpa meninggalkan anak-anak. Karena setiap tiga bulan, kelompok ini mengadakan open house dan pembagian keuntungan bersama. Meski hasilnya belum besar, kebersamaan dan semangat belajar membuat mereka terus bertumbuh," ucapnya.

Foto : Area Manager Communication, Relation and CSR Pertamina Patra Niaga Sumbagsel, Rusminto Wahyudi
Sementara Kepala Dusun Babakan, Agus Riono, menyampaikan apresiasinya atas dukungan Pertamina yang telah memfasilitasi rumah produksi tempe koro. “Terima kasih atas bantuan dan dukungan Pertamina. Fasilitas ini membuat warga kami semakin semangat mengembangkan usaha. Kami minta media massa ikut mempromosikan hingga dikenali luas oleh masyarakat,” ucapnya.
Di bagian lain, Area Manager Communication, Relation and CSR Pertamina Patra Niaga Sumbagsel, Rusminto Wahyudi mengatakan bahwa program CSR ini bertujuan membantu masyarakat agar mandiri secara ekonomi.
“Kami ingin program CSR tidak hanya berhenti pada bantuan, tapi benar-benar menciptakan keberlanjutan. Dimana Tempe Koro Babakan ini adalah bukti nyata bagaimana masyarakat bisa berkembang dari nol menjadi mandiri.” demikian tutupnya singkat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....