Anak Muda Perlu Literasi Finansial
- 09 Nov 2025 05:19 WIB
- Bengkulu
KBRN, BENGKULU – Di era yang bergerak cepat ini, kemampuan memahami keuangan bukan lagi menjadi pilihan tetapi kebutuhan. Anak muda yang memahami bagaimana menabung, mengatur pengeluaran, serta memahami risiko keuangan akan memiliki keunggulan dalam menghadapi kompleksitas ekonomi sehari-hari dan masa depan yang semakin tidak pasti. Banyak generasi muda memasuki dunia kerja atau usaha tanpa bekal yang cukup dalam literasi keuangan, dan konsekuensinya bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi keluarga dan masyarakat.
Pentingnya literasi keuangan terlihat dari data bahwa indeks literasi keuangan nasional Indonesia pada tahun 2024 tercatat sebesar 65,43 % dan indeks inklusi keuangan sebesar 75,02 %. Lebih lanjut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjuk bahwa kelompok usia muda, yaitu 18-25 tahun, mencatat literasi keuangan di kisaran 70 %. Dikutip dari laman Bisnis.com “Remaja Usia 15-17 Tahun Jadi Kelompok dengan Literasi Keuangan Paling Rendah” pada Minggu (09/11/2025), kelompok usia 15-17 tahun hanya memiliki indeks literasi sebesar 51,86 %, jauh di bawah kelompok usia produktif yang mencapai 73 % lebih. Dari fakta-fakta tersebut, terlihat bahwa generasi muda memiliki potensi besar namun juga kerentanan apabila tidak segera dibekali pengetahuan finansial yang memadai.
Ada beberapa alasan kuat mengapa anak muda harus segera memahami dan meningkatkan literasi finansial:
- Pertama, agar mampu memisahkan antara kebutuhan dan keinginan. Tanpa pemahaman ini, pengeluaran bisa meluas ke gaya hidup konsumtif yang menguras dana tanpa perencanaan. Studi menunjukkan bahwa banyak anak muda belum mencatat anggaran pengeluaran mereka atau memahami risiko produk investasi.
- Kedua, agar terhindar dari jebakan keuangan seperti pinjaman online ilegal, investasi bodong atau utang yang tidak terkendali. OJK sendiri mengingatkan bahwa generasi muda harus waspada terhadap tawaran mudah dalam era digital.
- Ketiga, literasi finansial membentuk sikap dan perilaku keuangan yang positif misalnya menabung secara rutin, mempersiapkan dana darurat, dan berinvestasi secara tepat dengan pengetahuan yang cukup. Hal ini sangat relevan karena akses ke layanan keuangan dan investasi semakin mudah bagi anak muda.
Sebagai penutup, literasi finansial bagi anak muda bukan hanya soal memiliki uang atau produk keuangan, melainkan soal memiliki kendali atas masa depan. Dengan membekali diri pengetahuan tentang anggaran, menabung, pengelolaan utang, dan pemanfaatan keuangan digital secara bijak, generasi muda dapat meningkatkan kemandirian finansial, mendukung impian hidup, dan berkontribusi pada ekonomi yang lebih sehat. Maka dari itu, mari mulai sekarang: belajar, praktikkan, dan jadikan literasi finansial sebagai bagian dari gaya hidup.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....