Produksi Melon Toboponik Tawarkan Potensi Bisnis Menjanjikan
- 29 Jan 2026 13:49 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu – Potensi bisnis melon berbasis greenhouse dinilai lebih menjanjikan dibandingkan budidaya di lahan terbuka konvensional. Sistem Toboponik yang diterapkan telah berbasis digital dengan teknologi irigasi tetes menyerupai hidroponik.
Manajer Produksi Toboponik, Merdian Sari menjelaskan, budidaya melon Toboponik dilakukan di dalam greenhouse sehingga risiko hama dan penyakit dapat ditekan secara signifikan. "Penggunaan plastik UV dan dinding insect net membuat serangga, reptil, dan hama lain tidak mudah masuk ke area tanaman, " katanya, saat ditemui, Kamis (29/1)
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada tingkat keberhasilan panen yang lebih tinggi dibandingkan budidaya di lahan terbuka. Tanaman dapat tumbuh optimal karena lingkungan lebih terkontrol dan stabil.
Saat ini Toboponik memiliki tiga area budidaya melon yang tersebar di beberapa lokasi. Di kawasan Jenggalu 2 terdapat sembilan greenhouse dengan kapasitas tanam antara 300 hingga 400 tanaman per greenhouse.
Sementara itu, di area Jenggalu 1 terdapat greenhouse nomor 10 hingga 21 dengan kapasitas 400 tanaman, kecuali greenhouse 21 yang mampu menampung hingga 500 tanaman. “Selain itu, terdapat dua greenhouse milik mitra di kawasan Perumahan Barito dengan kapasitas masing-masing 300 tanaman,” kata Merdian.
Merdian menyebutkan setiap tanaman hanya difokuskan menghasilkan satu buah melon untuk menjaga kualitas. “Dengan satu buah per tanaman, bobot melon dapat mencapai lebih dari dua kilogram dengan ukuran maksimal,” ujar Merdian.
Terkait harga, Merdian menjelaskan setiap varietas melon memiliki nilai jual yang berbeda. Melon jenis golden dan snow melon dijual dengan harga Rp48.000 per kilogram, sementara sweet trapezia dibanderol Rp51.000 per kilogram dan rock melon Rp44.000 per kilogram.
Saat ini terdapat tujuh varietas melon yang dibudidayakan, namun yang siap dipanen baru tiga jenis utama. “Varietas lainnya masih dalam masa pertumbuhan dan diperkirakan dapat dipanen dalam dua minggu ke depan,” ujar Merdian.
Merdian menambahkan dalam satu greenhouse, tingkat keberhasilan panen mencapai sekitar 90 persen. Dari kapasitas 300 tanaman, hasil panen berkisar antara 280 hingga 290 buah dengan rata-rata bobot 1,7 kilogram per buah.
“Sistem panen dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Setiap greenhouse memiliki siklus panen yang berbeda sehingga produksi tetap berjalan secara kontinu,” kata Merdian.
Merdian juga memaparkan sejumlah keunggulan melon Toboponic dibandingkan produk sejenis yang beredar di pasaran. Keunggulan utama terletak pada jaminan rasa manis yang konsisten pada setiap buah.
Ia menjelaskan seluruh melon Toboponic diuji menggunakan alat ukur tingkat kemanisan atau brix meter. Rata-rata tingkat kemanisan melon Toboponic berada di angka 15 persen dan bahkan bisa lebih tinggi.
Menurutnya, melon yang dijual di pasar umumnya hanya memiliki tingkat kemanisan di kisaran 8 hingga 10 persen. Jika beruntung, tingkat kemanisannya bisa mencapai 12 persen, sehingga rasa melon Toboponic dinilai dua hingga tiga kali lebih manis dibandingkan kompetitor.
"Selain rasa, keunggulan lain terletak pada kesegaran dan kesehatan produk. Melon Toboponic dapat dipetik langsung di kebun saat matang maksimal dan bisa langsung dikonsumsi tanpa proses pemeraman," tutur Merdian.
Dari sisi kesehatan, budidaya melon Toboponic menerapkan penyemprotan pestisida yang sangat minim. Berbeda dengan lahan terbuka yang membutuhkan penyemprotan intensif terutama saat musim hujan, sistem greenhouse membuat residu pestisida lebih rendah.
"Keunggulan lainnya adalah kemasan produk yang dibuat eksklusif. Melon Toboponic dikemas dengan packaging khusus sehingga cocok dijadikan buah premium untuk konsumsi pribadi maupun hadiah," ujar Merdian.
Untuk hasil panen, dia menyebut keuntungan penjualan mencapai puluhan juta. Kemudian untuk pemasaran, hasil panen melon Toboponik masih didominasi pasar Kota Bengkulu. “Namun, distribusi juga telah menjangkau wilayah Curup, Kepahiang, Palembang, dan Lubuk Linggau melalui jaringan reseller serta penjualan melalui media sosial,” ujar Merdian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....