Momentum Penguatan Rupiah: Dampak Pemangkasan Suku Bunga

  • 11 Des 2025 10:15 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini, Kamis, 11 Desember 2025, dibuka dengan catatan positif, bergerak menguat cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data dari Refinitiv, mata uang Garuda dibuka pada posisi Rp16.630 per dolar AS.

Penguatan ini merefleksikan kenaikan sebesar 0,30% dibandingkan dengan penutupan perdagangan sehari sebelumnya pada level Rp16.680 per dolar AS. Momentum penguatan ini menjadi sorotan utama pasar setelah Rupiah sempat berada di bawah tekanan pada sesi-sesi sebelumnya.

Kenaikan hari ini menandakan respon positif pasar domestik terhadap perkembangan kebijakan moneter global yang baru.

Pergerakan positif Rupiah tidak dapat dilepaskan dari dinamika yang terjadi di pasar global, khususnya pasca pengumuman kebijakan dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).

Dini hari tadi, The Fed secara mengejutkan memutuskan untuk kembali memangkas suku bunga acuannya (Federal Funds Rate/FFR) sebesar 25 basis poin (bps), membawa suku bunga ke kisaran 3,50%–3,75%. Pemangkasan ini merupakan yang ketiga kalinya sepanjang tahun 2025.

Kebijakan pelonggaran moneter di AS ini segera memberikan tekanan pada mata uang greenback di pasar global. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan Dolar terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melemah tajam ke level 98,571 pada pukul 09.00 WIB, turun sebesar 0,22%.

Pelemahan Dolar ini lantas memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, untuk menguat.

Keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga dipandang sebagai langkah antisipatif di tengah munculnya sinyal pelemahan ekonomi AS, terutama pada pasar tenaga kerja yang menunjukkan pertumbuhan yang melambat serta tingkat pengangguran yang mulai merangkak naik.

Pemangkasan FFR secara langsung menurunkan daya tarik aset berdenominasi Dolar AS, mendorong investor global untuk mencari aset dengan imbal hasil yang lebih tinggi di pasar yang dianggap lebih berisiko, termasuk pasar keuangan Indonesia. Aliran dana asing (capital inflow) yang masuk kembali ke pasar obligasi dan saham domestik menjadi salah satu faktor kunci yang menopang penguatan nilai tukar Rupiah hari ini.

Bank Indonesia (BI) di sisi lain terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas nilai Rupiah. Meskipun Rupiah mendapatkan dorongan dari faktor eksternal, BI tetap berada dalam posisi stand-by untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) apabila volatilitas dianggap berlebihan.

Analisis pasar memprediksi bahwa meskipun ada pemangkasan suku bunga The Fed, potensi penguatan Rupiah mungkin bersifat temporer jika The Fed memberikan sinyal pelonggaran yang lebih lambat dari ekspektasi pasar di masa mendatang. Namun, untuk saat ini, investor domestik dapat sedikit bernapas lega melihat Rupiah kembali menemukan momentum penguatannya, menjadikannya penutup pekan yang optimis di pasar keuangan nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....