Rekor Emas, Jual atau Tahan? Ini Kata Analis

  • 08 Okt 2025 09:34 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Harga emas domestik kembali mencatat kenaikan signifikan pada hari Rabu, 8 Oktober 2025, menyusul rekor fantastis harga emas dunia yang sempat menyentuh level psikologis $4.000 per troy ounce pada perdagangan kemarin.

Kenaikan harga emas lokal, seperti emas Antam di Pegadaian, bahkan mencapai puluhan ribu Rupiah per gram. Lonjakan harga ini dipicu oleh sentimen global yang kuat, terutama terkait penutupan (shutdown) pemerintahan Amerika Serikat yang belum berakhir dan tingginya probabilitas penurunan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) bulan ini.

Di tengah harga yang berada di puncak tertinggi sepanjang masa, para investor dihadapkan pada dilema: apakah ini saat yang tepat untuk merealisasikan keuntungan (jual) atau justru menambah posisi (beli) karena proyeksi kenaikan masih berlanjut?

Faktor Pendorong dan Proyeksi Bullish

Analis pasar sepakat bahwa tren bullish emas didukung oleh fondasi makroekonomi yang kuat. Faktor utama adalah ekspektasi kebijakan moneter dovish The Fed. Dengan peluang penurunan suku bunga acuan mencapai 94,6% pada Oktober ini, emas—sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset)—menjadi semakin menarik dibandingkan obligasi. Selain itu, ketidakpastian politik di AS akibat shutdown dan ketegangan geopolitik global meningkatkan daya tarik emas sebagai safe haven.

Secara teknikal, emas berada di zona bullish yang nyaman. Bahkan, lembaga investasi global sekelas Goldman Sachs telah merevisi naik proyeksi harga emas mereka, memperkirakan dapat menyentuh $4.900 per troy ounce pada Desember 2026. Proyeksi ini mengindikasikan bahwa laju kenaikan emas masih panjang.

Menanggapi dilema jual atau beli, pengamat investasi dan keuangan, Dr. Muhaimin pada laman sahabat.pegadaian.co.id, menyarankan investor untuk menerapkan strategi yang disiplin. "Bagi investor yang telah berinvestasi sejak harga emas masih rendah, ini adalah momentum yang baik untuk merealisasikan sebagian keuntungan (taking profit) atau menjual emas yang dialokasikan untuk tujuan jangka pendek," ujarnya.

Namun, bagi investor jangka panjang, terutama yang memandang emas sebagai aset perlindungan nilai terhadap inflasi dan pelemahan Rupiah, Muhaimin menyarankan agar tetap menahan (hold) atau melakukan aksi Buy on Dip. Analisis teknikal harian juga menunjukkan peluang buy on dip di area support terdekat (sekitar $3.974-$3.983) untuk mengantisipasi kenaikan menuju rekor baru di atas $4.000.

"Harga emas yang tinggi tidak selalu berarti akhir dari kenaikan. Selama faktor ketidakpastian global dan prospek penurunan suku bunga The Fed masih dominan, harga emas akan tetap dalam tren positif," tambahnya. Investor juga disarankan untuk memantau terus dinamika politik AS dan data ekonomi, sambil mempertimbangkan diversifikasi aset.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....