Pantang, Tradisi Berkabung Suku Enggano yang Terus Dilestarikan
- 18 Sep 2026 15:52 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu Utara - Pulau Enggano merupakan satu satunya pulau terluar yang ada di provinsi Bengkulu. Pulau yang berada di wilayah Kabupaten Bengkulu utara ini memiliki keindahan alam yang luar biasa.
Namun siapa sangka pulau yang memiliki 6 desa dan 6 suku ini memiliki berbagai macam tradisi yang tidak pernah ditinggalkan oleh masyarakatnya. Salah satunya ialah tradisi pantang atau tradisi berkabung.

Koordinator Kepala Suku Enggano, Milson Kaitora mengatakan tradisi pantang ini dilakukan jika ada masyarakat Enggano yang meninggal dunia. Dalam tradisi pantang masyarakat Enggano dilarang menggelar acara pernikahan, pesta, hingga pertunjukan musik.
Tradisi Pantang ini sendiri berlaku hingga 20 hari. Jika ada masyarakat yang melanggar aturan selama masa pantang berlangsung akan dikenakan denda adat.
"Ya kita punya tradisi berkabung, namanya pantang. Dalam tradisi ini selama kurang lebih 20 hari warga Enggano di larang menggelar pesta ataupun hiburan lainnya," ujar Milson Kaitora kepada RRI Kamis 17 September 2026.
Dalam tradisi pantang uang disebut-sebut sebagai alat sakral. Terlihat dari banyaknya rangkaian nya ritual yang menggunakan uang sebagai sarananya.

Biasanya pada pelaksanaan buka pantang masyarakat Enggano akan menggelar berbagai ritual. Seperti misalnya jika yang meninggal adalah kepala suku, rangkaian ritualnya akan lebih banyak dan berlangsung lebih lama, karena sekaligus melantik kepala suku yang baru.
Jika yang berduka adalah kepala suku, upacara buka pantang akan ditutup dengan arak-arakan warga yang membawa hasil bumi seperti ubi, keladi, pisang, kelapa, serta makanan sakral masyarakat Enggano yakni salai penyu. Semuanya diarak oleh warga sambil diiringi dengan tiupan trompet yang terbuat dari kerang atau lebih dikenal oleh masyarakat Enggano dengan nama kamiyu.
Setelah diarak salai penyu dan hasil bumi tersebut disusun rapi lalu diberikan tarian ritual yang khusus oleh kepala-kepala suku dan warga yang hadir. Tarian ini dilakukan dengan berpegangan tanggan sambil melantunkan syair-syair dengan menggunakan bahasa Enggano.

Setelah ritual tari tarian dan pengukuhan kepala suku yang baru usai barulah seluruh yang hadir dalam ritual buka pantang dipersilahkan menyantap hidangan yang sudah disiapkan. Pada momen makan bersama ini terdapat satu hal yang unik.
Yakni setiap tamu yang hadir diperbolehkan untuk membawa piring atau gelas yang disuguhkan sebagai wadah makanan dan minuman. Hal tersebut dilakukan sebagai wujud penghargaan terhadap alih ruma duka.
Salah seorang warga Pulau Enggano Aghuriel mengatakan meski selama masa pantang berlangsung terdapat beberapa larangan yang tidka boleh dilakuan oleh warga, hal tersebut tidak membuat ia dna warga merasa terganggu. Justru ia sangat bangga karena tradisi leluhur dapat terus dijaga dan dilestarikan.
"Ya tidak terganggu namanya juga memang tradisi, justru saya sangat bangga karena tradisi asli suku Enggano dapat telus dijaga. Nah harapan saya semoga kedepannya bukan hanya tetua saja yang menjaga ritual ini tapi generasi muda juga bisa ikut melestarikannya," ujar Aghuriel.
Bagi warga Enggano, tradisi ini bukan sekadar ritual, tapi bentuk penghormatan kepada arwah yang telah pergi dan menjadi pengikat kuat antara sesama suku dan generasi penerus. Sebuah kearifan lokal yang hidup dengan penuh sarat makna.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....