Jalur Emas Batavia Mini yang Terlupakan
- 23 Mei 2026 07:58 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID,Bengkulu Utara - Ditengah-tengah bukit barisan, tepatnya di Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara terdapat sebuah desa kecil bernama Lebong Tandai.
Meski hanya memiliki kurang lebih 200 KK,
namum desa ini meruapkan kawasan pertambangan emas tertua yang telah ada sejak masa kolonial Belanda.
Desa ini sangat terkenal dengan julukan Batavia Mini atau Batavia Kecil. Pada masanya, kawasan ini menjadi salah satu pusat tambang emas terbesar di Hindia Belanda, jauh sebelum nama Freeport dikenal dunia.
Bahkan konon 72 kilogram emas yang ada di puncak monas berasal dari Desa Lebong Tandai. Hal ini menandakan bahwa perambangan emas Batavia Mini sangat terkenal.
Meskipun berada di tengah hutan, dikelilingi gunung dan sulit untuk dijangkau, desa ini bukanlah daerah yang tertinggal. Justru bak kota metropolitan, dengan semua gemerlap kemewahan dan fasilitas yang sangat modern pada masanya.
Mulai dari rumah sakit, Landasan helikopter, tempat hiburan, hingga ruangan khusus olahhraga. Namun semua itu tinggal kenangan, puing dan banguna megah tersebut sudah rata dengan tanah akibat kurangnya kesadaran untuk menjaganya.

Kini peninggalan kejayaan Batavia Mini yang masih bisa dilihat dan masih digunakan oleh masyarakat ialah jalur rel molek atau motor lori ekpres sejenis kereta mini. Molek ini menjadi salah satu transportasi bagi masyarakat untuk keluar masuk Desa Lebong Tandai.
Salah seorang warga Desa Lebong Tandai Hendri mengatakan dulunya rel molek ini digunakan untuk mengangkut emas serta sebagai trasportasi para pekerja untuk masuk dan keluar Desa Lebong Tandai.
Sesuai dengan namanya molek ini dulunya berjalan sangat cepat sehingga untuk menuju Desa Lebong Tandai hanya memakan waktu 1 setngah jam saja. Namun kini justru harus memakan waktu seharian.
"Penginggalan zaman Belanda yang masih nampak wujudnya dan masih bisa kami guankan itu rel molek. Tapi molek yang sekarang tidak secepat dulu," katanya.
Hal ini dikarenakan banyak jalur rel molek yang yang rusak. Bahkan pada tanggal 6 mei 2026 lalu terdapat jalur rel yang kembali putus, akibat diterjang longsor.
Hendri menyebut meterial longsor di lokasi putusnya rel molek tersebut telah di bersihkan. Namun rel masih belum bisa dilewati, hal ini membuat molek harus transit.
Dimana penumpang dari Kecamatan Napal Putih yang hendak ke Desa Lebong Tandai harus turun berjalan kaki. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan molek lain yang berada di disebrangnya.
"Kemarenkan ada jalur yang kena longsor lagi, jadi terpaksa ngunjal. Kita dari kapal putih turun dlu turus jalan kaki ngunjal barang ke molek di sebrang, itu lah yang bikin perjalanan jadi lama," ucapnya.
Peristiwa ini kembali memperlihatkan rapuhnya akses menuju Desa Lebong Tandai. Padahal bagi masyarakat setempat, rel molek bukan hanya alat transportasi, namun juga menjadi penghubung utama distribusi logistik dan mobilitas warga.
"Harapan saya sebagai warga adalah tindaklanjut dari Pemerintah terkait rel molek ini atau dari PT yang ada disini lah. Karena banyak kehidupan di Lebong Tandai yang bergantung dengan molek ini," ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan Bengkulu Utara Yandi Putra Jaya mengatakan, Pemerintah Daerah belum dapat melakukan rehabilitasi menyeluruh terhadap rel molek tersebut. Hal ini karena status aset rel molek ini tidak tercatat.
Baik itu di Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi, maupun Kementerian Perhubungan. Rel molek tersebut diduga merupakan peninggalan swasta pada masa Kolonial Belanda.
Pemerintah daerah saat ini terus berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat. Untuk mencari solusi rehabilitasi rel yang membutuhkan anggaran besar.
"Kita mau menindak lanjutinya secara menyeluruh belum bisa. Karena rel molek ini tidak tercatat sebagai aset Pemerintah Daerah maupun aset Negara," ujarnya.
Sebelumnya, Pemerintah Daerah melalui program TMMD tahun 2020, telah membuka akses jalan darat menuju Desa Lebong Tandai sepanjang 3,7 kilometerm. Namun hingga kini kondisi jalan masih berupa tanah, sehingga sulit dilalui saat hujan.
Akibatnya, untuk menunjang berbagai aktivitas harian masyarakat masih bergantung pada rel molek. Yang setiap harinya diperbaiki secara gotong royong oleh warga dan Pemerintah Desa.
Di tengah keterbatasan tersebut, Batavia Mini yang penuh sejarah ini.terus berjuang. Berjuang untuk mendaptkan akses transportasi yang layak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....