Alur Bisa Dilewati, Harga Pisang Enggano Masih Anjlok
- 13 Jul 2025 23:25 WIB
- Bengkulu
KBRN Enggano : Meski saat ini kapal baik itu Pulo Tello dan M Husni Thamrin kembali bisa melewati alur masuk kapal di Pelabuhan Pulau Bengkulu, namun roda perekonomian masyarakat di Pulau Terluar Enggano belum kembali pulih. Terutama terhadap harga komoditas pertanian.
Salah seorang petani pisang Soni mengatakan, untuk saat ini harga jual pisang masih anjlok, dari yang sebelumnya dibandrol 40 ribu rupiah hingga 60 ribu rupiah pertandan, kini hanya dibandrol 20 ribu rupiah per tandan. Namun setelah dipotong biaya pengakutan pisang petani hanya menerima penghasilan bersih sebesar 5 ribu rupiah per tandannya.
“Ya masih sulit sih sekarang, harga jual tandan pisang jauh sekali, cuma 20 ribu rupiah pertannyanya, itu maunya yang besar-besar saja buahnya kalau yang kecil tidak mau pengepul ambil. Nah dari 25 ribu rupiah itu pun, setelah dipotong ongkos angkut dan kuli pelabuhan yang tersisa ditangan kami hanya lima ribu rupiah saja,”ungkapnya
Meski hasil yang didapatinya masih jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Soni tetap memanen pisangnya untuk dijual ke pengepul. Sembari menunggu situasi membaik, dengan harapan harga jual pisang kembali normal seperti sebelum terjadinya pendangkalan alur.
“Ya tidak cukup lah kalau segitu harganya kan, ya terpaks saya mencari upahan lain, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya berharap harga jual pisang di Enggano dapat segera kembali normal,”harapnya
Hal serupa juga dialami oleh pengolah emping melinjo. Dimana emping melinjo menjadi salah satu olahan khas Enggano yang kerap dijadihkan buah tangan ketika orang berkunjung ke Pulau Enggano.
Salah seorang pengolah emping melinjo Zartia mengatakan selama 3 bulan tidak adanya kapal pasca pendangkan alur, puluhan kilogram emping buatannya tidak ada yang terjual, sehingga saat ini emping dirumahnya menumpuk. Untuk bertahan hidup selama tidak ada kapal ia hanya berharap dari kiriman sang anak yang bekerja diluar Pulau Enggano.
“Dampak pendangkalan alur juga kami rasakan, 3 bulan kemaren kami tidak bisa menjual olahan emping kami. Tak ada kapal, berarti tak ada penjual, tak ada pembeli, berarti tak ada penghasilan. Karena semua kebutuhan warga enggano hanya bisa dikirim kapal,”jelasnya
Zatria dan seluruh masyarakat Enggano berharap kondisi ini bisa segera membaik. Agar hasil pertanian kembali dihargai dengan layak dan kebutuhan hidup masyarakat Enggano bisa kembali terpenuhi secara normal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....