Hadapi Keterisoliran, Semua Sektor Di Enggano Lumpuh

  • 23 Jun 2025 11:47 WIB
  •  Bengkulu

KBRN Bengkulu Utara : Sampai saat ini transportasi laut menuju dan keluar dari Pulau Terluar Enggano, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara masih terkendala lantaran kapal tidak bisa berlabuh di dermaga. Hal ini terjadi akibat pendangkalan alur Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu.

Salah seorang warga Enggano Aghuriel mengatakan bukan hanya masyarakat kesulitan untuk masuk dan keluar Enggano saja. Namun hampir semua sektor di Pulau Terluar Enggano terkena imbas akibat pendangkalan alur tersebut,mulai dari kesehatan, pasokan BBM, kebutuhan bahan pokok dan yang paling dirasakan oleh warga yakni kondisi ekonomi yang terus melemah.

"Sekarang makin sulit ya, semua sektor kena imbasnya, ada warga sakit dan butuh penanganan lebih intensif tidak bisa ke berangkat ke Kota Bengkulu, sembako susah juga, dan hasil pertanian apalagi, karena semua kebutuhan warga Enggano itu bergantung dengan kapal,"ungkapnya

Mayoritas warga Enggano menggantungkan ekonominya pada hasil perkebunan pisang. Sementara, sudah 4 bulan lebih hasil panen pisang masyarakat tidak bisa dibawa keluar dari Pulau Enggano untuk dijual.

"Ya memang betul, kami terpaksa membiarkan pisang-pisnag itu membusuk di batang, tidak sedikit tandan pisnag itu, dan rata-rata warga Enggano berkebun pisang, mau diolah jadi makanan pun butuh gas, minyak tanah, minyak goreng, sedangkan bahan-bahan penunjang itu harus di beli, uangnya dari mana,"jelasnya

Aghuriel menyebut untuk traspotasi menuju Enggano yang paling lancar ialah jalur udara, hanya saja jadwal kebernagkatan hanya 2 kali dalam seminggu dan kapasitas pesawat hanya mampu menampung 10 penumpang. Sementara kapal hanya kapal ferry yang beroperasi dengan jadwal 1 minggu sekali, namun tidak bisa membawa hasil bumi.

Meski ada alternatif lain yang bisa bisa digunakan yakni kapal nelayan, untuk pengangkutan pisang tidak bisa banyak. Kondisi ini lah yang membuat ribuan warga Enggano mati langkah karena hasil bumi melimpah namun tidak bisa dijual untuk mendapatkan uang.

"Ini lah yang kami rasakan selama 4 bulan ini, kami punya banyak hasil bumi, tapi kami tidak bisa menjualnya untuk mendapatkan uang. Apalgi bagi warga yang memang mata percahariannya dari pisang, pasti terasa sekali mereka membutuhkan uang untuk bayar biaya kuliah anaknya di Kota Bengkulu,"ungkapnya

Aghuriel menambahkan terkait dengan beras saat ini masih tebilang aman karena terdapat beberapa desa menanam padi dan pada minggu lalu pemerintah Kabupaten Bengkuku Utara juga telah mengirimkan beras cadangan pemerintah sebanyak 16 ton. Namun jika hingga 2 bulan kedepan pengerukan belum juga selesai stok beras dan bahan pokok lainnya serta BBM akan habis.

"Saya mewakili seluruh warga Enggano berharap pengerukan alur bisa cepat selsai, agar warga Enggano tidak semakin sengsara," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....