Ada Daerah Otak yang Mati Ketika Jatuh Cinta
- 30 Nov 2025 22:15 WIB
- Bengkulu
KBRN, Bengkulu: Ungkapan bahwa cinta itu buta ternyata bukan sekadar kiasan puitis. Sains, melalui studi pencitraan otak, telah membuktikan bahwa saat seseorang jatuh cinta, beberapa area di otaknya benar-benar mengalami penurunan aktivitas, atau seolah-olah 'mati'. Fenomena inilah yang ditengarai menjadi alasan mengapa kita cenderung kurang kritis terhadap pasangan dan lebih berani mengambil risiko.
Bagian Otak yang 'Tidur'
Para peneliti yang menggunakan alat pemindaian MRI fungsional (fMRI) telah mengidentifikasi beberapa wilayah utama yang menunjukkan penurunan aktivitas yang signifikan pada individu yang baru saja jatuh cinta:
1. Korteks Frontal (Terutama Korteks Prefrontal Ventromedial)
Bagian otak ini dikenal sebagai 'pusat eksekutif' yang bertanggung jawab atas penilaian, perencanaan, penalaran logis, dan kontrol sosial.
Dampaknya: Saat jatuh cinta, aktivitas di area ini menurun drastis. Hal ini menjelaskan mengapa seseorang cenderung kehilangan penilaian logis atau kritis terhadap orang yang dicintainya (fenomena 'kacamata merah jambu'). Mereka akan sulit melihat kekurangan atau cela pada pasangannya, sehingga seringkali digambarkan "bertindak bodoh" atau tidak rasional.
2. Amigdala
Struktur kecil berbentuk almond ini adalah pusat utama untuk memproses emosi negatif, terutama rasa takut dan kecemasan.
Dampaknya: Penurunan aktivitas di amigdala berperan dalam mengurangi rasa takut dan emosi negatif yang biasanya terkait dengan interaksi sosial atau mengambil risiko. Ini membuat individu yang sedang jatuh cinta merasa lebih nyaman, aman, dan berani untuk rentan, mirip dengan ikatan yang dirasakan seorang bayi dengan ibunya.
3. Bagian yang Mengatur Perasaan Sedih dan Depresi
Beberapa studi juga mencatat adanya penurunan aktivitas di jalur saraf yang bertanggung jawab atas emosi negatif, seperti sedih dan depresi.
Kompensasi dari Sistem Hadiah Otak
Menariknya, saat bagian-bagian otak yang mengatur penilaian dan rasa takut 'mati', area lain justru menyala terang. Para ilmuwan menemukan bahwa sistem hadiah (reward system) otak, yang kaya akan dopamin, menjadi sangat aktif.
Area seperti Area Tegmental Ventral (VTA) dan Nukleus Akumbens membanjiri otak dengan dopamin, neurotransmitter yang terkait dengan kesenangan, motivasi, hasrat, dan bahkan kecanduan. Inilah yang menyebabkan perasaan euforia, obsesi, dan kerinduan yang intens saat jatuh cinta.
Kesimpulan Ilmiah:
Jatuh cinta merupakan proses neurokimia yang kompleks. Deaktivasi area yang bertanggung jawab atas penilaian kritis dan rasa takut diperkirakan memiliki tujuan biologis, yaitu untuk mempermudah pembentukan ikatan sosial dan memprioritaskan reproduksi atau kelanjutan spesies, meskipun harus dengan mengorbankan logika dan kewaspadaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....