China: Jutaan Meninggal Akibat Pembasmian Burung Pipit

  • 30 Okt 2025 23:10 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, BENGKULU: Sebuah kebijakan kontroversial di Tiongkok pada akhir tahun 1950-an, yang dikenal sebagai Kampanye Empat Hama (termasuk pembasmian burung pipit atau burung gereja), dipercaya telah memicu bencana ekologis yang memperparah Bencana Kelaparan Besar Tiongkok (Great Chinese Famine) tahun 1959–1961. Diperkirakan puluhan juta orang tewas kelaparan selama periode tragis ini.

Asal Mula Kampanye

Pada tahun 1958, di bawah kepemimpinan Ketua Partai Komunis Tiongkok, Mao Zedong, Kampanye Empat Hama diluncurkan sebagai bagian dari program pembangunan ambisius Lompatan Jauh ke Depan (Great Leap Forward). Kampanye ini menargetkan empat jenis hama: tikus, lalat, nyamuk, dan burung pipit (burung gereja).

Burung pipit dijadikan target utama karena dianggap mencuri benih dan biji-bijian hasil panen petani. Rakyat Tiongkok dimobilisasi secara besar-besaran untuk membasmi burung-burung ini. Mereka melakukannya dengan berbagai cara, termasuk menghancurkan sarang, memecahkan telur, dan yang paling terkenal, memukul panci dan drum tanpa henti untuk menakut-nakuti burung agar terus terbang hingga jatuh dan mati kelelahan.

Konsekuensi yang Mematikan

Meskipun kampanye ini berhasil memusnahkan hampir punahnya populasi burung pipit, hasilnya justru berbalik menjadi bencana. Para pemimpin Tiongkok baru menyadari bahwa burung pipit tidak hanya memakan biji-bijian, tetapi juga merupakan pemangsa utama serangga dan hama tanaman, terutama belalang.

Tanpa adanya burung pipit, populasi belalang dan hama perusak tanaman lainnya meledak tak terkendali. Serangan hama ini menghancurkan sebagian besar hasil panen yang tersisa. Ditambah dengan kebijakan ekonomi yang salah urus, kolektivisasi paksa, dan faktor alam, kehancuran pertanian ini memperburuk krisis pangan di seluruh negeri.

Kelaparan Besar Tiongkok

Bencana ekologis akibat pembasmian burung menjadi salah satu faktor kunci yang mempercepat terjadinya Bencana Kelaparan Besar Tiongkok. Selama periode 1959 hingga 1961, perkiraan jumlah korban tewas akibat kelaparan, kerja paksa, dan kekerasan negara berkisar antara 15 hingga 55 juta orang, menjadikannya salah satu bencana kelaparan terbesar dalam sejarah manusia.

Pada tahun 1960, para pemimpin akhirnya menyadari kesalahan fatal ini dan atas saran ahli ekologi, burung pipit dikeluarkan dari daftar hama dan diganti dengan kutu busuk. Namun, kerusakan ekologis dan dampak kemanusiaan sudah tak terhindarkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....