Gaharu, Emas Hijau yang Harum dari Hutan Nusantara
- 13 Agt 2025 15:21 WIB
- Bengkulu
KBRN, Bengkulu : Di tengah rimba tropis yang lembap dan sunyi, berdiri pohon-pohon berkulit kelabu dengan aroma khas yang hanya muncul ketika takdir mempertemukannya dengan luka. Itulah gaharu — pohon yang dijuluki emas hijau karena nilainya yang tinggi, aromanya yang eksotis, dan sejarahnya yang panjang dalam peradaban manusia.
Gaharu (Aquilaria spp.) bukan sekadar pohon. Di dalam kayunya, terkadang terbentuk resin beraroma harum yang terbentuk secara alami ketika pohon terserang jamur atau bakteri tertentu. Proses ini bisa memakan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, membuat setiap potongan kayu gaharu menjadi barang langka dan berharga.
Kayu gaharu sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Catatan sejarah menunjukkan, pada masa jalur rempah, gaharu dari Nusantara dikirim hingga ke Timur Tengah, India, dan Tiongkok. Di sana, ia dibakar sebagai dupa dalam ritual keagamaan, dijadikan minyak wangi mewah, hingga digunakan sebagai bahan obat tradisional.
Di pasar internasional, gaharu berkualitas tinggi bisa dihargai puluhan juta rupiah per kilogram. Minyak atsirinya — yang disebut oud — menjadi bahan dasar parfum kelas dunia dengan aroma hangat, manis, dan mistis. Tak heran, banyak orang menyebutnya “air mata pohon” yang bernilai setara emas.
Namun, popularitas gaharu juga membawa ancaman. Perburuan liar membuat beberapa jenisnya masuk daftar tumbuhan terancam punah. Saat ini, budidaya gaharu menjadi solusi penting, tidak hanya untuk menjaga kelestariannya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Beberapa daerah di Indonesia seperti Kalimantan, Sumatera, dan Papua mulai mengembangkan kebun gaharu. Dengan teknik inokulasi jamur buatan, resin gaharu dapat dipanen dalam waktu yang lebih singkat, sekaligus menjaga hutan dari eksploitasi berlebihan.
“Gaharu adalah kekayaan alam yang luar biasa. Kalau dikelola dengan bijak, ia bisa menjadi sumber penghasilan berkelanjutan sekaligus menjaga keseimbangan alam,” ujar seorang petani gaharu di Kalimantan.
Gaharu mengajarkan satu hal: keindahan dan nilai sejati sering lahir dari proses panjang, bahkan dari luka. Di setiap aroma harum yang menguar dari kayunya, tersimpan kisah hutan, waktu, dan ketabahan alam yang tak terburu-buru.
(KemenhutRI)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....