HOAKS, WHO Akui Mpox adalah Efek Samping Covid-19
- 04 Nov 2024 01:29 WIB
- Bengkulu
KBRN, Bengkulu: Adanya informasi terkait pengakuan WHO (World Health Organization) yang menyatakan Mpox (Monkeypox) atau cacar monyet adalah Efek Samping Covid-19 merupakan berita bohong atau hoax.
Berdasarkan rilis Mafindo (Masyarakat Antifitnah Indonesia) menyebutkan bahwa situs yang beredar bersumber dari Slay News. Dan situs web tersebut memiliki rekam jejak menyebarkan disinformasi.
Media Bias Fact Check mengidentifikasi situs Slay News memiliki bias ekstrem sayap kanan dan kredibilitas rendah.
Secara keseluruhan, Slay News menyebarkan teori konspirasi, pseudosains, propaganda, sumber tidak jelas, kurangnya transparansi, dan plagiarisme.
Situs web VIgiAccess merupakan database WHO, yang memungkinkan individu membuat laporan gejala atau penyakit apa pun yang terjadi setelah mengkonsumsi atau mendapat sebuah produk obat.
Data tersebut lantas diserahkan ke otoritas kesehatan nasional negara terkait.
Kendati demikian, VigiAccess tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan antara dugaan efek samping dan obat tertentu.
Basis data yang dikelola oleh Uppsala Monitoring Center mencantumkan enam laporan cacar monyet, lima cacar sapi, dan 15 cacar setelah menerima Pfizer-BioNTech Vaksin Covid-19.
Namun sejauh ini, tidak ada kasus cacar yang disebabkan langsung oleh vaksin Covid-19, yang tercatat di dunia selama beberapa dekade.
Sejauh ini, tidak ada pengumuman dari WHO bahwa kasus mpox yang disebabkan oleh vaksin Covid-19.
Laporan mengenai kemungkinan efek samping bersifat sukarela dan tidak terverifikasi.
Laporan yang dimasukkan pada VigiAccess perlu dikonfirmasi hubungan sebab akibatnya melalui proses kompleks, penilaian menyeluruh, dan evaluasi terperinci terhadap semua data.
Otoritas kesehatan hanya melakukan intervensi jika terdapat kecenderungan antara produk obat dan kejadian yang dilaporkan.
"Informasi di VigiAccess mengenai potensi efek samping tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa produk obat atau zat aktifnya menyebabkan efek yang diamati atau tidak aman untuk digunakan," kata juru bicara WHO dilansir Reuters.
“Informasi di situs web ini tidak mencerminkan hubungan yang dikonfirmasi antara produk obat dan efek samping,” imbuhnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....