Pahpe, Tradisi Sedekah Bumi Masyarakat Adat Enggano

  • 19 Agt 2026 11:45 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu Utara - Tradisi sedekah bumi masyarakat adat Pulau Enggano yang disebut Pahpe, yang dilakukan setiap bulan Agustus tepatnya usai perayaan kemerdekaan Republik Indonesia kembali digelar di Bakeke yang merupakan aliran mata air di Desa Meok. Tahun ini, ritual adat yang dipimpin Kepala Suku Kaharuba itu dilaksanakan tanggal 18 Agustus 2026 yang juga dihadiri perwakilan suku-suku (Kaitora, Ka'ahoao, Ka'arubi, Kaharuba, Kauno, dan Kaamay yang merupakan suku pendatang) di Pulau Enggano dan perwakilan pejabat forum koordinasi Pimpinan di Kecamatan (Forkopimcam).

Milson Kaitora, Koordinator Kepala Suku Pulau Enggano atau Pa'abuki menuturkan, tradisi Pahpe merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat adat terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Atas hasil alam baik hasil pertanian dan perkebunan maupun hasil laut, serta keselamatan dan keamanan bagi masyarakat dan mahluk hidup lainnya di pulau.

"Kita berdoa, memohon kepada Tuhan supaya hasil bumi, hasil laut itu melimpah. Termasuk untuk keamanan Pulau Enggano, kesehatan masyarakat adat yang ada di Pulau Enggano," ucap Milson kepada RRI, Rabu 19 Agustus 2026.

Ungkapan syukur itu, juga mereka tunjukkan dengan mengumpulkan berbagai olahan hasil alam seperti ubi bakar, ubi getuk, keladi rebus, ikan bakar, kelapa muda, pisang masak, serta makanan khas masyarakat adat setempat lainnya. "Itu semua yang disajikan makanan khas adat Enggano," katanya.

Sebagian makanan tersebut digantung memanjang menggunakan kayu, yang menjadi sesajian kepada alam. Sementara dibagian bawah, hasil alam yang sama ditata diatas daun kelapa dan daun pisang yang nantinya disantap bersama masyarakat yang hadir dalam Pahpe.

Kekhasan adat istiadat ini, juga terlihat dari tarik tambang menggunakan untaian rotan oleh masyarakat adat di bagian barat dan timur pulau dengan pembatas aliran mata air Bakeke. Rotan ditarik sampai putus, yang juga menjadi penanda masa panen lebih dulu dan terbanyak yang akan dialami bagian rotan terpanjang saat putus.

"Jadi ketika tali rotan itu putus, akan dilihat leebih condong ke barat atau ke timur. Tahun ini lebih condong ke barat berarti semua itu akan berlimpah di sebelah barat," katanya menjelaskan.

Milson menambahkan, usai pelaksanaan ritual adat masyarakat yang akan pulang tidak diperbolehkan menoleh ke belakang. Karena jika terjadi, maka bisa membatalkan hasil yang diharapkan dan pekerjaan yang dilakukan menjadi sia-sia.

"Jadi, setelah selesai kegiatan semua berangkat ke tempat masing-masing. Yang tinggal di barat pulang ke barat, yang timur ke timur, tidak boleh menoleh ke belakang," kata Milson.

Untuk penanda wilayah di pulau, aliran mata air Bakeke di Desa Meok menjadi pembatas antara barat pulau (sebagian Desa Meok sampai ke Desa Banjar Sari) dan timur (sebagian Desa Meok, Apoho, Malakoni, Ka'ana dan Kahyapu). "Bakeke ini berada di tengah-tengah," tuturnya.

Kegiatan yang gelar di pinggiran pantai tersebut, dikatakan Milson menjadi tradisi turun temurun yang dirawat sampai sekarang. Bukan bentuk kepercayaan anismisme ataupun dinasmisme, namun merawat warisan yang juga bagian ungkapan syukur dan harapan kepada Sang Pencipta terhadap kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat pulau.

"Ini satu-satunya budaya yang yang memang dilaksanakan setiap tahun, supaya tetap dilestarikan. Jangan sampai budaya ini hilang," ujar Milson.

Tradisi itu juga kedepan dikatakan Milson bisa menjadi penarik wisatawan yang berkunjung ke Pulau Enggano. Karena dengan keunikannya dan nilai-nilai budaya yang terkandung, menjadikan ritual itu sebagai penghormatan kepada Tuhan dan ungkapan syukur atas berkat Sang Pencipta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....