Balai Adat Rajo Penghulu Kenalkan Budaya Bengkulu lewat Koleksi Benda Adat

  • 11 Agt 2026 18:53 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Balai Adat Rajo Penghulu menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang mengenalkan adat dan sejarah Bengkulu kepada masyarakat. Selain bangunan tradisional, tempat ini juga menyimpan berbagai koleksi benda adat yang menjadi daya tarik bagi pengunjung.

Pengelola Balai Adat Rajo Penghulu, Asni mengatakan, balai tersebut mulai berdiri sejak 2019, sedangkan pengisian berbagai koleksi dilakukan pada 2020. Koleksi yang berkaitan dengan budaya di antaranya tempat sirih, katil pengantin kuno, tempat makan pengantin, guci, selpa atau tempat uang, serta tombak lama yang menjadi bagian dari sejarah dan adat masyarakat Bengkulu.

Asni menjelaskan, Balai Adat Rajo Penghulu mematok tarif masuk sebesar lima ribu rupiah per orang dan pengunjung tidak dibatasi waktu selama berada di lokasi. “Balai ini buka Senin sampai Kamis pukul 14.00 sampai 20.00 WIB, sedangkan Sabtu dan Minggu mulai pukul 08.00 sampai 20.00 WIB,” ujar Asni, pada Senin, 10 Agustus 2026.

Dalam sehari, jumlah pengunjung yang datang ke Balai Adat Rajo Penghulu biasanya mencapai sekitar sepuluh orang. Asni berharap pengunjung tidak hanya menjadikan tempat tersebut sebagai lokasi berfoto, tetapi juga ikut menjaga benda-benda adat dan bersejarah agar tetap dapat dinikmati masyarakat di masa mendatang.

Salah seorang pengunjung, April mengaku tertarik datang karena ingin mengenal lebih dekat budaya dan adat istiadat Bengkulu secara langsung. Ia mengatakan, kunjungannya bukan karena ikut-ikutan atau FOMO, melainkan karena memiliki rasa ingin tahu terhadap budaya daerah sendiri.

April menilai bentuk bangunan dan ornamen adat menjadi salah satu hal yang paling menarik perhatiannya selama berkunjung. “Menurut saya, setiap bagian memiliki ciri khas dan menunjukkan identitas budaya Bengkulu, sehingga tempat seperti ini menarik untuk dipelajari secara langsung,” ujar April.

Ia berharap budaya adat Bengkulu dapat diperkenalkan dengan cara yang lebih menarik dan dekat dengan generasi muda melalui media sosial, video pendek, kegiatan budaya, maupun kunjungan langsung. Menurutnya, generasi muda perlu dilibatkan agar tidak hanya mengenal budaya karena FOMO, tetapi juga memahami, merasakan, dan ikut menjaga kelestariannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....