Ini Masukan Agar Festival Tabut Mendatang Lebih Menarik Wisatawan

  • 25 Jun 2026 19:52 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Pelaksanaan Festival Tabut ke depan dinilai perlu melakukan pembenahan manajemen internal, khususnya terkait sinkronisasi waktu dan koordinasi iring-iringan arak-arakan budaya saat prosesi puncak. Langkah evaluasi bersama pemerintah daerah ini dianggap krusial agar festival budaya tahunan tersebut dapat tampil lebih rapi, profesional, dan semakin menarik minat wisatawan nasional maupun mancanegara.

Ketua Kerukunan Tabut (KKT) Bencoolen Bengkulu, Achmad Syafril, menegaskan pentingnya edukasi dan penyamaan persepsi publik terhadap esensi Festival Tabut guna menghindari kesalahpahaman serta potensi konflik di masyarakat. Selain itu langkah sosialisasi adalah untuk memberi pemahaman bahwa festival budaya ini perlu dilestraikan.

Syafril mengungkapkan, salah satu langkah konkret yang telah dilakukan adalah melalui kolaborasi bersama anggota DPR RI dapil Bengkulu, Dewi Coryati. Inisiatif tersebut diwujudkan dalam bentuk sosialisasi sejarah dan strategi pemajuan Festival Tabut yang digelar di kampus Poltekkes Kemenkes Bengkulu.

"Masyarakat harus paham dulu apa benarnya barang (Tabut) ini. Kalau tidak paham, kita akan melenceng. Oleh karena itu, kami sangat terbuka mengajak tokoh, masyarakat, hingga pejabat daerah maupun pusat untuk menyatukan persepsi agar festival budaya ini berhasil," ujar Syafril, Kamis 25 Juni 2026.

Festival Tabut sendiri merupakan upacara tradisional tahunan masyarakat Bengkulu yang digelar setiap 1 hingga 10 Muharram. Rangkaian ritual sakralnya meliputi prosesi Mengambik Tanah, Duduk Penja, Menjara, Arak Sorban, hingga puncaknya Tabut Naik Puncak dan Tabut Tebuang. Kemeriahan festival ini identik dengan dentuman alat musik tradisional Dol yang energik, tari-tarian, serta pasar rakyat dan pameran UMKM.

Kendati berlangsung meriah dan sukses menarik perhatian wisatawan, pelaksanaan tahun ini menyisakan catatan evaluasi pada prosesi puncak Tabut Tebuang di Kompleks Pemakaman Karabela. Saprian, seorang wisatawan asal Kabupaten Kaur yang hadir langsung di lokasi, menyoroti adanya ketidaksinkronan waktu ketibaan iring-iringan 17 Tabut budaya.

"Prosesi Tabut ini sebenarnya sangat luar biasa untuk menarik wisatawan. Namun, tadi menjadi catatan karena ada rombongan yang sampai lebih dahulu dan ada yang masih tertinggal di belakang. Ini harus menjadi catatan bagi pemerintah daerah untuk ikut menyelesaikan apa yang terjadi di internal Tabut agar ke depan pelaksanaannya jauh lebih bagus," kata Saprian.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....