Tabut Tebuang Akhiri Festival Tabut 2026, Ribuan Warga Padati Karabela
- 25 Jun 2026 16:42 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu – Ritual sakral Tabut Tebuang digelar di Kompleks Pemakaman Karabela, Kelurahan Kebun Tebeng, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu, Kamis 25 Juni 2026. Prosesi ini menjadi puncak sekaligus penutup seluruh rangkaian peringatan Tabut 1448 Hijriah yang telah berlangsung selama 10 hari.
Sejak siang hari, ribuan masyarakat memadati kawasan Karabela untuk menyaksikan secara langsung prosesi yang telah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Bengkulu tersebut. Selain warga lokal, sejumlah wisatawan dari luar daerah juga terlihat hadir mengikuti rangkaian acara hingga selesai.
Pelaksanaan Tabut Tebuang diawali dengan salat Zuhur berjamaah yang dilakukan keluarga Kerukunan Tabut (KKT) Bencoolen Bengkulu di Masjid Al Muhajirin, Kelurahan Pasar Melintang. Setelah itu, rombongan kembali ke kawasan Tugu Dhol untuk memulai arak-arakan menuju Kompleks Pemakaman Karabela.
Sebanyak 17 bangunan Tabut budaya diarak dari pusat Kota Bengkulu menuju Karabela melalui rute sepanjang kurang lebih empat kilometer. Iring-iringan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang memadati sepanjang jalur yang dilalui rombongan Tabut.
Sebelum prosesi Tabut Tebuang dilaksanakan, keluarga Kerukunan Tabut terlebih dahulu melakukan ziarah dan doa bersama di sejumlah makam tokoh. Toko-tokoh inilah yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Tabut di Bengkulu.
Juru kunci makam Karabela, Mak Inar, menjelaskan ziarah merupakan bagian penting dari rangkaian ritual yang selalu dilakukan setiap tahun. Pembacaan doa dan Al-Fatihah dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan tradisi Tabut kepada generasi saat ini.
“Ini proses awalnya ziarah dulu, ziarah ke makam Syekh Imam Senggolo, Zalmiah Bansal, Syekh Khadr Ali, dan Syekh Abdullah. Setelah itu baru masuk ke prosesi Tabut Tebuang,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KKT Bencoolen Bengkulu, Achmad Syafril, mengatakan Tabut Tebuang merupakan ritual sakral yang selalu dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharam sebagai penutup seluruh rangkaian peringatan Tabut. Rangkaian ritual ini untuk mengenang kisah kepahlawanan dan wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husein bin Ali, dalam Tragedi Karbala.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami makna yang terkandung dalam prosesi tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap tradisi yang telah menjadi warisan budaya Bengkulu selama ratusan tahun. Ia menjelaskan, prosesi Tabut Tebuang mengandung filosofi membuang segala hal buruk serta menjadi pengingat tidak ada kemegahan dan keindahan dunia yang bersifat abadi.
“Tabut Tebuang ini bukan dibakar atau dilarung, karena di Karabela tidak ada laut. Ini merupakan simbol berakhirnya seluruh rangkaian Tabut yang telah dilaksanakan sejak awal Muharam,” kata Syafril.

Setelah seluruh rangkaian ritual selesai, kegiatan ditutup dengan doa bersama di area makam Imam Senggolo. Kemudian dilakukan penyimpanan kembali perlengkapan sakral Tabut oleh keluarga Kerukunan Tabut.
Selain itu, momentum Tabut Tebuang juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tampak memadati kawasan Karabela dengan menjajakan berbagai makanan, minuman kepada para pengunjung yang datang menyaksikan prosesi tersebut.
Diungkapkan wisatawan dari Kabupaten Kaur, Saprian, Festival Tabut memiliki daya tarik di antaranya gelaran budaya dan ritual kepercayaan yang jadi tradisi setiap tahunnya. Namun ia berpesan agar adanya penataan dan perhatian pemerintah terhadap para keluarga tabut sehingga tradisi dan ritual menjadi nilai jual dalam festival ini.
Dengan berakhirnya prosesi Tabut Tebuang, maka berakhir pula seluruh rangkaian Festival Tabut 2026 yang setiap tahunnya menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Provinsi Bengkulu sekaligus simbol pelestarian tradisi dan sejarah yang terus diwariskan kepada generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....