Melihat Makam Panjang di Desa Jenggalu yang ternyata Raja Selebar Pertama

  • 21 Jun 2026 14:28 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Seluma - Melintasi Desa Jenggalu Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma, Bengkulu, tampak seperti biasa. Namun siapa sangka, tak jauh dari tugu perlawanan rakyat Seluma—front Jenggalu terdapat satu hal yang menarik perhatian, Makam Renggo Jengo — tempat Raja Selebar pertama disemayamkan.

Lokasinya sekitar 35 menit dari Kota Bengkulu bila ditempuh dari jalan lintas Betungan Tais. Lewat Desa Riak Siabun, jaraknya lebih dekat sekitar 20 menit melalui area perkebunan sawit.

Makam Raja pertama kerajaan Jenggalu ini berada di area perkebunan kelapa sawit dan karet milik warga setempat. Dari perlintasan jalan raya, kita harus kembali menyusuri jalan setapak kebun sekira satu kilometer.

Sesampainya di area makam, tampak pusara sepanjang dua meter lebih tempat peristirahatan terakhir raja Renggo Jengo. Di sekeliling terdapat dua makam yang tak diketahui siapa orangnya.

Sebagai warga Seluma, makam ini dikeramatkan. Tak jarang pada momen tertentu seperti malam suro atau menjelang bulan Ramadan, makam ini dikunjungi warga daerah maupun luar daerah untuk ziarah, mengirim doa sebagai tetua.

Dari berbagai literatur, Raja Renggo Jengo atau Rangga Janu yang bergelar Depati Payung Negara memiliki beberapa pengaruh mulai dari melawan penjajahan hingga penyebaran agama Islam di tanah Serawai. Namanya cukup asing dibanding dengan Ratu Agung—sebagai pendiri pertama kerajaan Sungai Serut, ataupun Ratu Samban atau Mardjati sebagai pejuang rakyat asli Bengkulu.

Namun bagi warga Seluma perjuangannya melawan penjajahan sangat dikenang. Hingga pada akhir 2025, makamnya direnovasi Wakapolda Bengkulu, Brigjen Pol Dicky Sodani.

Menurutnya makam tokoh bersejarah yang memiliki keterkaitan kuat dengan Kerajaan Majapahit ini harus dilestarikan. Bahkan ia Wakapolda juga mendorong agar makam tersebut segera ditetapkan sebagai cagar budaya sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh perjuangan Bengkulu.

Menurut berbagai sumber, Kerajaan Selebar merupakan salah satu kerajaan tua di Bengkulu yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-12 sebagai penerus Kerajaan Jenggalu. Wilayah kekuasaannya berada di sekitar Sungai Jenggalu dan mencakup kawasan yang kini dikenal sebagai Kecamatan Selebar.

Pada awalnya kerajaan ini berada di bawah pengaruh Majapahit, sebelum kemudian menjalin hubungan erat dengan Kesultanan Banten pada abad ke-16. Hubungan dengan Banten membawa pengaruh besar terhadap perkembangan Bengkulu, terutama dalam penyebaran agama Islam dan penggunaan tulisan Arab Melayu.

Selain menjalin hubungan politik dengan Banten, Kerajaan Selebar juga aktif dalam perdagangan lada, pala, cengkih, serta hasil hutan lainnya. Kerajaan ini berhubungan dagang dengan Belanda dan Inggris dan pada tahun 1685, Kerajaan memberikan izin kepada Inggris untuk mendirikan pusat perdagangan yang kemudian berkembang menjadi Benteng York di Bengkulu.

Menurut sejarah lokal Desa Jenggalu, usai Raja Jenggalu wafat, Rangga Janu menjadi penguasa dan memindahkan pusat kerajaannya ke Bengkulu. Salah satu keturunannya, Depati Bangsa Radin, disebut memperoleh pengukuhan dari Sultan Ageng Tirtayasa Banten dan bergelar Pangeran Nata Dirja.

Masyarakat Desa Jenggalu meyakini wilayah mereka merupakan lokasi pusat Kerajaan Selebar. Keyakinan ini didukung oleh keberadaan situs-situs sejarah seperti makam tokoh kerajaan, bekas benteng atau parit istana, serta sejumlah pusaka yang diwariskan turun-temurun.

Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Desa Jenggalu menjadi basis penting Front Perjuangan Selatan. Wilayah ini digunakan sebagai markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk menghadang upaya Belanda menguasai kembali Bengkulu Selatan pada agresi militer kedua.

Kerajaan Selebar sendiri berakhir pada tahun 1862 ketika Pemerintah Hindia Belanda menghapus kekuasaan raja terakhirnya. Meski demikian, jejak sejarah kerajaan tersebut masih menjadi bagian penting dari identitas budaya dan sejarah masyarakat Bengkulu, khususnya di wilayah Jenggalu dan Selebar.

Di desa ini, sistem adat yang dikenal sebagai Sako Enam, yang berasal dari enam kelompok keturunan besar atau jungku. Hingga saat ini, budaya dan adat istiadat sepeninggalan kerajaan masih dilestarikan para keturunannya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....