Healing yang Berubah Menjadi Pelarian
- 18 Mar 2026 13:40 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Istilah healing semakin sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang mengaitkannya dengan liburan, istirahat, atau menjauh sejenak dari rutinitas. Sekilas, hal ini terlihat sebagai cara sehat untuk memulihkan diri.
Namun, tidak semua yang disebut healing benar-benar memberi pemulihan. Dalam beberapa kasus, aktivitas tersebut justru menjadi cara untuk menghindari masalah. Rasa tidak nyaman ditunda, bukan diselesaikan.
Fenomena ini berkaitan dengan konsep avoidance coping. Menurut penelitian dalam Journal of Anxiety Disorders, menghindari masalah memang dapat meredakan stres dalam jangka pendek. Akan tetapi, dalam jangka panjang, hal ini justru memperpanjang tekanan emosional.
Akibatnya, masalah yang seharusnya dihadapi tetap ada. Bahkan, bisa menjadi lebih kompleks karena terus diabaikan. Kondisi ini membuat seseorang merasa tidak bergerak ke mana-mana.
Di sisi lain, healing yang sebenarnya bukan selalu tentang pergi jauh. Proses ini bisa berarti menghadapi emosi yang tidak nyaman secara perlahan. Mengakui rasa lelah, kecewa, atau takut adalah bagian dari pemulihan.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep emotional processing dalam kajian psikologi. Menghadapi emosi secara sadar membantu individu memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Dari situ, proses penyembuhan menjadi lebih bermakna.
Pada akhirnya, healing bukan tentang lari dari kenyataan. Healing adalah keberanian untuk tetap hadir dan memahami apa yang dirasakan. Proses ini mungkin tidak selalu nyaman, tetapi justru di situlah letak pemulihan yang sesungguhnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....