Aksesibilitas bagi Kalangan Disabilitas di COP29
- 28 Nov 2024 11:32 WIB
- Bengkulu
Video
KBRN, Baku: Pada Conference of Parties 29 United Nations Framework Convention on Climate Change (COP29 UNFCCC) yang diselenggarakan di Baku, Azerbaijan, kalangan disabilitas menilai belum terakomodir penuh terutama dalam hal aksesibilitas (kemudahan dalam mencapai tujuan) baik informasi maupun dari sisi fasilitas yang disediakan.
Di COP kali ini yang diselenggarakan di Baku Olympic Stadium, dengan area yang luas dan jarak tempuh yang jauh dari satu titik pertemuan ke titik pertemuan lainnya, dengan banyak orang dinilai cukup menyulitkan bagi kalangan disabilitas. Karena fasilitas yang disediakan minim dan tidak dikhususkan bagi jenis disabilitas.
Kendati diberikan kartu khusus untuk kalangan disabilitas, namun fasilitas di lokasi COP dinilai hanya terbatas akses jalan dan toilet untuk memudahkan para disabilitas yang menggunakan kursi roda, sementara kebutuhan bagi penyandang disabilitas jenis lainnya, seperti guiding block (pemandu arah) atau warning block (penunjuk/peringatan) bagi disabiltas netra, ruang tenang bagi disabilitas psikososial atau mental perkembangan, juga disabilitas tuli dengan kebutuhan penunjuk arah yang jelas juga tidak disediakan di lokasi COP.
Sekretaris Jenderal ASIAN Disability Forum, Maulani Agustiah Rotinsulu mengatakan bagi dirinya yang mengalami disabilitas fisik di bagian salah satu tangannya yang palsu, kendala ini mungkin tidak terlalu menyulitkan. Namun bagi kalangan disabilitas lainnya, perlu tambahan fasilitas untuk memudahkan mereka beraktivitas, berinteraksi dan berkomunikasi apalagi di event internasional seperti kali ini.
“Rems atau selasar-selasar yang sudah disediakan cukup aksesisbel bagi penyandang disabilitas. Akan tetapi ada satu lagi, karena teman-teman yang hadir dari Disabilitas Kaukus juga ada disabilitas netra, artinya disabilitas sensorik. Artinya disabilitas nentra dan disabilitas rungu atau tuli. Saya melihat fasilitas mereka tidak ada, apa fasilitas mereka untuk bisa mandiri yaitu guiding block atau jalur pemandu. Guiding block dan warning block itu sama sekali tidak ada di lokasi COP ini,” ungkap Maulani kepada RRI.
Sementara terkait diskusi-diskusi yang dihadirkan dalam COP29 tentang perubahan iklim khususnya kerugian dan kerusakan yang juga bisa dirasakan oleh kalangan disabilitas, menurut Maulani Agustiah Rotinsulu informasi terkait isu-isu tersebut juga tidak cukup memadai untuk diakses.
Apalagi belum adanya pengakuan terhadap status masyarakat disabilitas dimata UNFCCC, menyebabkan kebutuhan dan situasi penyandang disabilitas di dalam isu perubahan iklim tidak terakomodir secara konfrehensif.
Kalangan disabilitas, dikatakannya juga merupakan kalangan yang terdampak perubahan iklim terutama dalam hal loss and damage (kerugian dan kerusakan) yang harus teredukasi dengan baik dan mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan.
“Terkait dengan pengakuan dari UNFCCC, atas partisipasi komunitas masyarakat disabilitas. Kenapa kita menuntut partisipasi penuh di COP ini di acknowledge atau diakomodir secara resmi menjadi salah satu komunitas yang diakui, didengar kemudian diperhitungkan dalam rekomendasi COP ini. Adalah karena kami juga punya konvensi hak-hak penyandang disabilitas yang digelontorkan oleh United Nations tentunya,” tambah Maulani.
Pada pertemuan COP selanjutnya, suara-suara dari kalangan disabilitas diharapkan lebih bisa diakomodir terutama dalam pembahasan perubahan iklim yang menjadikan mereka juga bagian yang terdampak dan perlu dipersiapkan untuk menghadapinya. (Antonia Sinaga)