Masalah Pemuda Makin Kompleks, Pendampingan Jadi Tanggung Jawab Bersama

  • 06 Okt 2026 15:44 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Masalah yang dihadapi pemuda dinilai merupakan persoalan yang kompleks sehingga membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak. Kondisi tersebut tidak dapat dilihat dari satu sisi saja karena pemuda berada dalam fase perkembangan yang membutuhkan arahan, pembinaan, sekaligus ruang untuk menemukan jati diri.

Ketua Tim Organisasi Kepemudaan dan Kepramukaan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Bengkulu, Yunita Sari Satriani, S.Sos., Selasa, 6 Oktober 2026, mengatakan pemuda perlu terus digandeng, dirangkul, dan dibina agar mampu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya. Menurutnya, pendampingan menjadi tanggung jawab bersama, baik oleh orang tua, guru, maupun pembina kepemudaan.

"Jadi memang masalah pemuda ini masalah yang kompleks, tidak bisa dilihat dari satu sisi saja," ujar Yunita. Ia menuturkan, kompleksitas persoalan pemuda membuat penanganannya membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada satu aspek kehidupan.

Yunita mengatakan, orang dewasa memiliki peran penting dalam mendampingi pemuda selama proses pencarian jati diri. Pendampingan tersebut diperlukan agar pemuda tetap memiliki arah ketika menghadapi berbagai pilihan dan pengaruh dari lingkungan sekitarnya.

Ia menuturkan, pemuda merupakan kelompok yang sedang berada dalam fase mencari tahu tentang dirinya sendiri, termasuk menentukan tujuan yang ingin dicapai. Karena itu, proses pembinaan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan pemuda.

"Maka pemuda ini menjadi PR bersama buat kita untuk tetap digandeng, tetap dirangkul, dibina, oleh orang dewasa, sebagai pembina mungkin, sebagai orang tua, sebagai guru," tutur Yunita. Menurutnya, keterlibatan orang dewasa dibutuhkan untuk memberikan arahan sekaligus membantu pemuda menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam proses pertumbuhan mereka.

Yunita menambahkan, pendampingan bukan berarti membatasi kebebasan pemuda dalam menentukan pilihan, tetapi membantu mereka ketika mulai keluar dari arah yang seharusnya. Ketika pemuda mulai "belok atau melenceng", orang dewasa perlu hadir untuk memberikan pemahaman dan meluruskan kembali arah mereka.

Upaya tersebut diharapkan dapat membantu pemuda tumbuh menjadi generasi yang mampu mengenali potensi dan menentukan tujuan hidupnya secara positif. Sinergi antara keluarga, lingkungan pendidikan, organisasi kepemudaan, dan pemerintah pun menjadi penting untuk memastikan pemuda mendapatkan pembinaan yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....