Waspada! Tren 'Brainrot' Diam-diam Bikin Otak Lemot dan Susah Fokus
- 19 Sep 2026 20:37 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Fenomena brainrot merujuk pada kondisi penurunan fungsi kognitif akibat paparan konten media sosial berdurasi pendek yang berkualitas rendah secara berlebihan. Istilah ini semakin dikenal luas setelah lembaga Oxford University Press menetapkannya sebagai salah satu kata yang paling banyak diperbincangkan.
Istilah ini pertama kali populer di komunitas daring untuk menggambarkan rasa lelah mental setelah menonton video absurd secara terus-menerus. Penggunaannya kini meluas untuk mengkritik tren internet yang dinilai tidak memiliki nilai edukatif maupun manfaat intelektual.
Karakteristik dan Penyebaran Konten
Konten pembawa brainrot umumnya ditandai dengan penggunaan nada suara yang dipercepat, humor absurd, serta kemunculan berbagai bahasa gaul khas generasi muda. Kosakata unik seperti skibidi, rizz, dan gyatt sering kali diulang-ulang hingga mendominasi pola komunikasi anak muda di media sosial.
Algoritma platform video pendek turut mempercepat penyebaran tren ini dengan terus merekomendasikan konten yang memicu kepuasan instan. Pola konsumsi tak terbatas tersebut menciptakan kecanduan digital yang membuat pengguna sulit melepaskan diri dari layar gawai.
Dampak Kesehatan Mental dan Kemampuan Otak
Para ahli kesehatan jiwa menegaskan bahwa stimulasi visual yang berlebihan dapat memperpendek rentang perhatian seseorang secara signifikan. Penurunan kemampuan fokus ini berpotensi mengganggu produktivitas kerja serta menghambat proses belajar pada anak-anak.
Paparan informasi tanpa jeda juga berdampak buruk pada kualitas tidur dan meningkatkan risiko kelelahan emosional. Kondisi tersebut memperlemah daya pikir kritis sehingga seseorang menjadi lebih mudah menerima informasi yang tidak valid.
Pencegahan dan Solusi Kesehatan Digital
Penerapan pembatasan waktu layar menjadi langkah krusial untuk memulihkan kesehatan mental pengguna internet dari kejenuhan informasi. Mengalihkan perhatian pada aktivitas fisik dan membaca buku mampu melatih kembali ketajaman konsentrasi otak.
Peran aktif orang tua dan pendidik sangat dibutuhkan untuk mendampingi anak-anak dalam memilih tontonan yang berkualitas di dunia maya. Edukasi literasi digital yang konsisten diharapkan mampu membentengi generasi muda dari dampak negatif budaya brainrot.
Sumber
- Oxford University Press – Word of the Year Announcement
- American Psychological Association (APA) – Report on Digital Media Exposure and Attention Span
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....