Mengenal Burung Bubut: antara Mitos Pertanda Buruk dan Fakta Ekologisnya

  • 19 Sep 2026 08:49 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Burung bubut merupakan jenis burung dari famili Cuculidae yang kerap dijumpai di kawasan semak belukar dan hutan sekunder di Indonesia. Kehadirannya sering kali menarik perhatian masyarakat lokal karena suaranya yang khas dan mendengung di area perdesaan.

Karakteristik dan Ciri Fisik Utama

Spesies ini memiliki ciri fisik berupa bulu berwarna cokelat keemasan atau hitam serta ekor yang cenderung panjang. Berbeda dengan kerabat dekatnya yang bersikap parasit, burung bubut mengerami telurnya sendiri dan merawat anak-anaknya hingga mandiri.

Satwa ini tergolong sebagai pemangsa oportunistik yang memangsa serangga besar, reptil kecil, hingga mamalia berukuran kecil di permukaan tanah. Cara berburunya yang lebih sering berjalan atau melompat di atas tanah membuat gaya hidupnya cukup unik dibanding jenis burung lainnya.

Mitos Pertanda Buruk dan Minyak Mistik

Di beberapa wilayah perdesaan, masyarakat mempercayai mitos bahwa induk burung bubut mampu mengobati patah tulang anaknya dengan ramuan rahasia. Kepercayaan tradisional ini memicu munculnya minyak bubut yang populer dicari karena dianggap ampuh menyembuhkan cedera tulang.

Selain mitos ramuan obat, suara gaung burung bubut saat malam hari sering kali dikaitkan dengan rumor pertanda buruk bagi warga setempat. Sebagian masyarakat meyakini bahwa suara tersebut menandakan akan adanya kemalangan atau kedatangan penyakit di desa mereka.

Fakta Ilmiah di Balik Suara Misterius

Secara ilmiah, dugaan bahwa kehadiran burung ini membawa nasib buruk sama sekali tidak memiliki dasar biologis. Suara menggema yang dikeluarkan sebenarnya merupakan bentuk komunikasi teritorial dan penanda musim kawin antar sesama burung.

Kehadiran populasi burung bubut di suatu daerah justru menandakan bahwa ekosistem di lingkungan tersebut masih dalam kondisi seimbang. Burung ini memegang peran ekologis penting sebagai pengendali hama alami dengan mengonsumsi serangga pengganggu tanaman.

Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan perburuan liar hanya karena terpengaruh mitos mistis atau rasa takut yang tidak berdasar. Menjaga kelestarian habitat alami burung bubut sangat penting agar fungsi ekologisnya di alam dapat terus berjalan dengan baik.

Sumber: MacKinnon, J., Phillipps, K., & van Balen, B. (2010). Burung-burung di Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. LIPI / BirdLife International.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....