Menjaga Komitmen, Merawat Pernikahan

  • 18 Sep 2026 15:55 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Pernikahan bukan hanya tentang rasa cinta saat semuanya menyenangkan, tetapi juga kesediaan untuk tetap hadir ketika rutinitas, perbedaan, dan masalah datang bergantian. Komitmen perlu dirawat melalui pilihan-pilihan kecil setiap hari, bukan sekadar diingat ketika hubungan mulai goyah.

Dua penelitian Galena K. Rhoades dan rekan-rekannya membahas beberapa sisi komitmen, termasuk dedikasi dan kendala. Dedikasi muncul karena seseorang sungguh ingin menjaga hubungan dan membangun masa depan bersama, sedangkan kendala membuatnya bertahan karena merasa sulit pergi, misalnya akibat tekanan sosial atau urusan ekonomi.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang membuat kita masih bertahan?”, tetapi juga, “Apa yang membuat kita tetap memilih satu sama lain?” Pasangan dapat membicarakan kembali tujuan keluarga, pembagian peran, keuangan, pengasuhan anak, hingga harapan pribadi agar pernikahan tidak berjalan berdasarkan asumsi masing-masing.

Komunikasi pun bukan sekadar sering berbicara, melainkan membuat pasangan merasa didengar, dipahami, dan dihargai. Penelitian tentang perceived partner responsiveness menunjukkan bahwa perasaan memiliki pasangan yang peduli dan tanggap berkaitan dengan kesejahteraan serta kualitas hubungan yang lebih baik.

Saat ada masalah, usahakan membahas persoalannya tanpa menyerang pribadi pasangan. Kalimat seperti, “Aku merasa kewalahan dan butuh bantuan,” biasanya lebih membuka ruang dialog dibandingkan ucapan, “Kamu memang tidak pernah peduli.”

Komitmen juga tumbuh melalui kebiasaan sederhana, seperti mengucapkan terima kasih, menanyakan kabar dengan sungguh-sungguh, menepati janji, atau menyediakan waktu tanpa gangguan gawai. Penelitian Sara B. Algoe dan rekan-rekan dalam jurnal Personal Relationships menemukan bahwa rasa syukur dalam keseharian dapat membantu memperkuat hubungan romantis.

Konflik tidak selalu menandakan pernikahan gagal karena dua orang yang hidup bersama tetap mungkin memiliki pandangan berbeda. Hal terpenting adalah cara memperbaiki hubungan setelah konflik, mulai dari meminta maaf, mengakui kesalahan, mendengarkan tanpa buru-buru membela diri, hingga menyepakati perubahan nyata.

Jika persoalan terus berulang dan komunikasi selalu berakhir buntu, mencari bantuan konselor pernikahan atau psikolog bukanlah tanda menyerah. Namun, komitmen tidak berarti harus bertahan dalam kekerasan; apabila terdapat ancaman, penganiayaan, pemaksaan, atau kontrol yang membahayakan, keselamatan diri dan anak harus menjadi prioritas.

Pada akhirnya, pernikahan yang kuat bukanlah hubungan tanpa masalah, melainkan hubungan yang terus dirawat oleh dua orang yang mau menjadi satu tim. Cinta mungkin menjadi awal perjalanan, sedangkan komitmen menjaganya tetap berjalan melalui rasa hormat, kejujuran, tanggung jawab, dan kemauan untuk bertumbuh bersama.

Referensi jurnal:

Rhoades, G. K., Stanley, S. M., & Markman, H. J. (2012). A Longitudinal Investigation of Commitment Dynamics in Cohabiting Relationships. Journal of Family Issues, 33(3), 369–390.

Rhoades, G. K., Stanley, S. M., & Markman, H. J. (2010). Should I Stay or Should I Go? Predicting Dating Relationship Stability From Four Aspects of Commitment. Journal of Family Psychology, 24(5), 543–550.

Algoe, S. B., Gable, S. L., & Maisel, N. C. (2010). It’s the Little Things: Everyday Gratitude as a Booster Shot for Romantic Relationships. Personal Relationships, 17(2), 217–233.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....