Dari Pemain Biasa Jadi Pro Player, Mengapa Karier Esports Makin Dilirik Anak Muda?

  • 14 Sep 2026 15:33 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Bermain game dahulu mungkin lebih sering dipandang sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang, tetapi perkembangan esports perlahan mengubah pandangan tersebut dan membuka kemungkinan karier bagi pemain yang memiliki kemampuan kompetitif. Bagi sebagian anak muda, menjadi pro player kini bukan sekadar keinginan untuk bermain sepanjang hari, melainkan tujuan yang membutuhkan latihan, konsistensi, kemampuan bekerja dalam tim, serta kesiapan menghadapi persaingan.

Jalur menuju dunia profesional juga semakin terbuka melalui turnamen komunitas, akademi tim, hingga berbagai program pembinaan yang memberi kesempatan kepada pemain muda untuk menunjukkan kemampuan mereka. Dikutip dari ANTARA, pada Maret 2026 ekosistem esports Indonesia disebut mulai membuka jalur karier bagi pemain muda melalui akademi tim, kompetisi komunitas, dan pembinaan federasi, sementara peluang di industri ini juga berkembang ke berbagai pekerjaan lain di sektor ekonomi kreatif.

Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) menjadi salah satu contoh game yang memiliki ekosistem kompetitif kuat di Indonesia, sehingga pemain dapat melihat adanya tingkatan kompetisi yang harus dilewati sebelum mencapai panggung profesional. Berdasarkan informasi dari ANTARA, program MLBB Goes to School di Surabaya pada Januari 2026 bahkan menghadirkan sesi bersama mantan analis EVOS Legends Ade Setiawan dan mantan pelatih Alter Ego Nafari untuk berbagi strategi serta wawasan mengenai jenjang karier menjadi pro player kepada para pelajar.

Kemampuan bermain secara individu ternyata bukan satu-satunya modal yang dibutuhkan jika seseorang ingin serius mengejar karier sebagai pemain profesional, sebab komunikasi dan kerja sama memiliki peran besar dalam pertandingan kompetitif. Dikutip dari ANTARA, Nafari menekankan kepada peserta MLBB Goes to School bahwa tujuan utama adalah belajar bermain sebagai sebuah tim dan bukan hanya mengandalkan kemampuan mekanik individu, sementara pemain muda juga perlu belajar mengendalikan ego serta mendengarkan rekan dan pelatih.

Persaingan untuk mendapatkan tempat dalam tim profesional juga cukup ketat, sehingga kemampuan yang terlihat bagus ketika bermain bersama teman belum tentu langsung cukup untuk memasuki level tertinggi. Berdasarkan informasi dari ANTARA pada Juni 2026, RRQ Hoshi pernah membuka rekrutmen pemain MLBB dengan salah satu persyaratan performa berupa win rate minimal 70 persen pada mode ranked Season 40, memperlihatkan bahwa organisasi profesional menggunakan standar tertentu ketika mencari calon pemain.

Besarnya perhatian terhadap esports juga membuat pengembangan talenta tidak hanya menjadi urusan pemain dan organisasi tim, tetapi mulai mendapat perhatian dari pemerintah dan berbagai pihak dalam industri ekonomi kreatif. Dikutip dari Kementerian Ekonomi Kreatif pada Juli 2026, pemerintah bersama IESPA membahas peluang kolaborasi untuk memperkuat talenta dan mengembangkan ekosistem esports nasional, sementara Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar juga menekankan pentingnya standar kompetensi agar industri esports Indonesia mampu semakin berdaya saing secara global.

Meski jalur menuju pro player semakin terlihat, perjalanan tersebut tetap tidak bisa dianggap sebagai jalan pintas menuju popularitas dan kesuksesan karena persaingan yang tinggi menuntut pemain terus mengembangkan kemampuan serta menjaga kedisiplinan. Dari pemain biasa yang awalnya hanya mabar bersama teman hingga berkesempatan mengikuti kompetisi dan seleksi tim, perkembangan ekosistem esports membuat karier profesional semakin dilirik anak muda, sekaligus menunjukkan bahwa dunia game kompetitif membutuhkan keseriusan layaknya bidang pekerjaan lainnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....