Pemanfaatan AI dalam Pendidikan Harus Mengedepankan Kemampuan Berpikir Kritis

  • 30 Jul 2026 15:00 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin banyak dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, mulai dari membantu mencari referensi, menyusun materi, hingga menjawab berbagai pertanyaan akademik. Kehadiran teknologi ini memberikan kemudahan bagi pelajar dan mahasiswa, namun penggunaannya perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar hasil belajar tetap berkualitas.

Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, menegaskan bahwa AI seharusnya memperkuat proses pembelajaran, bukan menggantikan peran manusia dalam berpikir, berkreasi, dan mengambil keputusan. Menurutnya, pendidikan harus memastikan setiap peserta didik mampu menggunakan AI secara etis, bertanggung jawab, dan tetap mengembangkan kemampuan intelektualnya.

Pandangan serupa disampaikan Stefania Giannini, Assistant Director-General for Education UNESCO, yang menyebut transformasi digital harus tetap berpusat pada manusia. Ia menilai teknologi AI dapat meningkatkan kualitas pendidikan apabila dimanfaatkan untuk mendorong kreativitas, kolaborasi, serta kemampuan memecahkan masalah, bukan sekadar menghasilkan jawaban secara instan.

Sementara itu, Fengchun Miao, Chief of the Unit for Technology and AI in Education UNESCO, menjelaskan bahwa generasi muda perlu memiliki literasi AI agar memahami cara kerja, manfaat, sekaligus keterbatasan teknologi tersebut. Menurutnya, kemampuan mengevaluasi informasi yang dihasilkan AI menjadi keterampilan penting untuk menghindari penyebaran informasi yang keliru maupun bias.

Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Prof. Wayne Holmes, pakar Artificial Intelligence in Education dari University College London, yang menilai AI paling efektif digunakan sebagai pendamping proses belajar. Ia menegaskan bahwa interaksi antara guru dan peserta didik tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan karakter.

Di Indonesia, penggunaan AI di lingkungan pendidikan diperkirakan akan terus meningkat seiring percepatan transformasi digital di berbagai sektor. Karena itu, sekolah, perguruan tinggi, maupun orang tua perlu membangun budaya literasi digital yang tidak hanya mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi juga menanamkan etika, tanggung jawab, serta kemampuan memverifikasi informasi.

Pemanfaatan AI yang bijaksana diharapkan mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih inovatif tanpa mengurangi kualitas berpikir peserta didik. Kolaborasi antara teknologi, pendidik, dan peserta didik menjadi kunci dalam mencetak sumber daya manusia yang adaptif sekaligus kritis menghadapi perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....