Saat Anak Tidak Lulus SNBT, Orang Tua Perlu Hadir dengan Dukungan, Bukan Tekanan

  • 30 Mei 2026 19:13 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Pengumuman hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) sering menjadi momen yang menegangkan bagi banyak keluarga. Tidak sedikit siswa yang merasa kecewa, sedih, bahkan kehilangan kepercayaan diri ketika hasil yang diterima tidak sesuai dengan harapan yang telah diperjuangkan selama berbulan-bulan.

Dalam situasi seperti ini, reaksi orang tua memiliki peran yang sangat besar terhadap kondisi emosional anak. Psikolog pendidikan menilai, kalimat sederhana seperti “Tidak apa-apa, kita cari jalan lain bersama” dapat membantu anak merasa lebih aman dibandingkan respons yang berisi kemarahan, perbandingan dengan orang lain, atau tuntutan berlebihan.

Orang tua disarankan memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya terlebih dahulu. Mendengarkan tanpa menghakimi menjadi langkah penting agar anak merasa dihargai dan tidak menghadapi kekecewaan tersebut sendirian.

Alih-alih langsung menanyakan penyebab kegagalan, orang tua dapat menunjukkan empati dengan mengakui usaha yang telah dilakukan anak. Pengakuan terhadap proses belajar dan kerja keras yang sudah dijalani dapat membantu menjaga harga diri anak tetap positif meskipun hasil yang diperoleh belum sesuai harapan.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Adolescence pada tahun 2024 oleh tim peneliti dari beberapa universitas di Inggris menemukan bahwa dukungan emosional dari orang tua berhubungan erat dengan tingkat resiliensi remaja setelah mengalami kegagalan akademik. Penelitian yang melibatkan lebih dari 1.000 remaja tersebut menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan respons hangat dan suportif dari keluarga cenderung lebih cepat bangkit, memiliki kesehatan mental yang lebih baik, dan lebih optimistis dalam merencanakan langkah pendidikan berikutnya.

Setelah kondisi emosional anak mulai stabil, orang tua dapat mengajak berdiskusi mengenai berbagai pilihan yang masih tersedia. Mulai dari jalur mandiri perguruan tinggi, sekolah kedinasan, program vokasi, hingga kesempatan mengambil jeda waktu untuk mempersiapkan diri kembali dapat menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan.

Para ahli juga mengingatkan bahwa kegagalan dalam satu seleksi bukanlah penentu masa depan seseorang secara keseluruhan. Dukungan, penerimaan, dan komunikasi yang baik dari orang tua justru dapat menjadi modal penting bagi anak untuk membangun kembali rasa percaya diri dan melanjutkan perjalanan menuju tujuan yang diinginkannya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....