El Nino, Penyebab Kemarau Panjang

  • 06 Apr 2026 17:02 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Fenomena El Nino merupakan salah satu peristiwa iklim global yang berdampak besar terhadap cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Peristiwa ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mengalami pemanasan yang tidak normal.

Kondisi tersebut menyebabkan perubahan pola angin dan curah hujan, sehingga wilayah seperti Indonesia cenderung mengalami penurunan hujan secara signifikan. Dampaknya, musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering dibandingkan kondisi normal.

Di Indonesia, El Nino biasanya terjadi setiap 2 hingga 7 tahun sekali, meskipun tidak selalu dengan intensitas yang sama. Fenomena ini umumnya mulai terasa pada pertengahan tahun, sekitar bulan Juni hingga Agustus, dan bisa berlangsung hingga akhir tahun.

Badan meteorologi seperti BMKG menyebutkan bahwa puncak dampak El Nino di Indonesia sering terjadi antara bulan September hingga November. Pada periode tersebut, sejumlah wilayah mengalami kekeringan, krisis air bersih, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa El Nino memiliki korelasi kuat dengan penurunan produksi pertanian di Indonesia. Studi dari berbagai lembaga klimatologi internasional juga mencatat bahwa fenomena ini dapat menurunkan hasil panen padi karena berkurangnya ketersediaan air.

Selain sektor pertanian, El Nino juga berdampak pada kesehatan masyarakat dan lingkungan. Kualitas udara bisa menurun akibat kebakaran hutan, sementara suhu udara yang lebih panas dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan penyakit terkait cuaca ekstrem.

Meskipun demikian, pemerintah dan masyarakat dapat melakukan berbagai langkah mitigasi untuk mengurangi dampaknya. Dengan pemantauan dari BMKG serta kesiapan sektor pertanian dan sumber daya air, dampak El Nino diharapkan dapat diminimalkan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....