Dari Resah Jadi Museum Sampah
- 31 Mar 2026 21:34 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Berawal dari keresahan pribadi terhadap banjir yang terus berulang, lima pemuda asal Bandung membentuk gerakan lingkungan yang kini dikenal luas sebagai Pandawara Group. Kisah mereka bukan sekadar aksi bersih-bersih, melainkan perjalanan panjang yang mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.
Pandawara resmi terbentuk pada 5 Mei 2022, digagas oleh Muchamad Ikhsan Destian, Rafly Pasya, Mochamad Agung Permana, Gilang Rahma, dan Muhammad Rifqi Sadulloh. Mereka adalah sahabat sejak masa SMA yang dipersatukan oleh keresahan yang sama: lingkungan tempat tinggal mereka kerap dilanda banjir akibat tumpukan sampah di sungai.
Dari keresahan tersebut, mereka mulai turun langsung membersihkan sungai tanpa ekspektasi viral. Namun setelah mendokumentasikan aksi mereka di media sosial pada pertengahan 2022, konten tersebut justru menyebar luas dan menarik perhatian publik hingga menjadikan mereka viral di berbagai platform digital.
Seiring popularitasnya, Pandawara tidak hanya bergerak sendiri. Mereka melibatkan ribuan relawan dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, masyarakat umum, hingga aparat pemerintah seperti TNI, kepolisian, dan pemerintah daerah dalam berbagai aksi bersih-bersih di sungai dan pantai.
Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa gerakan mereka berkembang menjadi gerakan kolektif. Bahkan, Pandawara juga menjalin kerja sama lintas sektor, termasuk dengan pemerintah, komunitas lingkungan, hingga sektor swasta untuk memperluas dampak edukasi dan aksi nyata di lapangan.
Langkah besar berikutnya datang ketika mereka membangun sebuah museum sampah di lahan pribadi yang juga menjadi basecamp mereka. Museum ini menampilkan berbagai jenis sampah yang pernah mereka temukan, lengkap dengan informasi dampak dan waktu penguraiannya, sebagai media edukasi agar masyarakat lebih sadar akan bahaya sampah.
Kehadiran museum ini menjadi simbol transformasi dari keresahan menjadi gerakan edukatif yang konkret. Tidak hanya membersihkan, Pandawara kini juga “menyimpan” cerita sampah sebagai pengingat bahwa masalah ini nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di tengah upaya tersebut, Indonesia sendiri masih menghadapi persoalan serius terkait sampah plastik. Data menunjukkan bahwa sekitar 36% sampah plastik di Indonesia bocor ke lingkungan terbuka dan perairan, sementara hanya sekitar 11% yang berhasil didaur ulang.
Bahkan, riset terbaru menemukan bahwa dari 35 sungai di Indonesia yang dipantau, tidak satu pun yang bebas dari sampah. Sekitar 33% sampah plastik di perairan berasal dari kemasan produk, menandakan tingginya konsumsi plastik sekali pakai di masyarakat.
Selain itu, pemantauan kualitas air pada 2025 menunjukkan sekitar 70,7% sungai di Indonesia telah tercemar. Kondisi ini memperkuat fakta bahwa sungai menjadi jalur utama penyebaran sampah menuju laut.
Kisah Pandawara menjadi refleksi bahwa perubahan bisa dimulai dari keresahan sederhana. Dari lima pemuda yang turun ke sungai, kini lahir gerakan yang mengedukasi, menginspirasi, dan mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....