Hiu di Bahama Positif Narkoba: Fenomena Miris di Balik Jernihnya Laut Karibia

  • 23 Mar 2026 19:05 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Sebuah temuan mengejutkan datang dari perairan kristal di Bahama. Sejumlah hiu di wilayah tersebut dilaporkan menunjukkan perilaku aneh dan setelah diteliti, predator puncak ini dinyatakan positif mengandung zat narkotika dalam sistem tubuh mereka. Fenomena ini memicu kekhawatiran serius di kalangan ahli kelautan mengenai dampak polusi manusia terhadap ekosistem laut.

Fakta ini diungkap oleh tim peneliti internasional dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Environmental Pollution untuk edisi Mei 2026. Temuan ini menjadi bukti nyata betapa parahnya dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem laut.

"Kita sedang membicarakan sebuah pulau yang sangat terpencil di Bahama," kata Natascha Wosnick, ahli biologi dari Universitas Federal Paraná di Brasil yang memimpin penelitian ini, seperti dikutip dari ScienceNews, Jumat (20/3).

Wosnick dan timnya mengambil sampel darah dari 85 ekor hiu di sekitar Pulau Eleuthera, Bahama. Mereka menguji keberadaan belasan jenis obat legal maupun ilegal. Hasilnya? Sebanyak 28 hiu dari tiga spesies, yakni Hiu Karang Karibia, Hiu Perawat (Nurse Shark), dan Hiu Lemon, terdeteksi memiliki kandungan obat di dalam darahnya.

Bahkan, beberapa hiu positif mengandung lebih dari satu jenis obat sekaligus. Kafein jadi zat yang paling umum ditemukan, disusul oleh asetaminofen dan diklofenak (bahan aktif dalam obat pereda nyeri seperti Tylenol dan Voltaren).

Bagaimana Hal Ini Bisa Terjadi?

Mungkin terdengar seperti plot film aksi, tapi kenyataannya cukup logis secara geografis. Bahama merupakan jalur utama penyelundupan narkoba menuju Amerika Serikat.

  • Pembuangan Barang Bukti: Para penyelundup sering kali membuang paket-paket narkoba (sering disebut bricks) ke laut saat dikejar petugas atau untuk diambil nantinya oleh kurir lain.
  • Kebocoran Paket: Paket-paket ini bisa pecah karena tekanan air atau digigit oleh hewan laut, menyebabkan isinya larut ke air atau langsung terkonsumsi oleh predator puncak seperti hiu.

Lalu, bagaimana dengan kafein dan obat pereda nyeri yang membanjiri darah hiu lainnya? Jawabannya ada pada aktivitas pariwisata.

Sebagian besar hiu yang diteliti ditangkap di sekitar area bekas budidaya ikan yang kini populer jadi spot diving (menyelam). Meski arus laut bisa saja membawa sisa limbah dari pulau, Wosnick menyebut para penyelam adalah tersangka utamanya.

Dampak pada Perilaku Hiu

Para peneliti dalam dokumenter Cocaine Sharks mengamati adanya perubahan perilaku yang tidak wajar pada hiu-hiu di area tersebut:

  • Hiu yang "Fly": Ditemukan hiu martil yang biasanya menjauh dari manusia, justru mendekati penyelam dengan gerakan yang tidak menentu.
  • Obsesi pada Objek: Hiu terlihat mengejar bayangan atau objek imajiner, mirip dengan efek stimulasi berlebih pada saraf pusat.
  • Kehilangan Insting Alami: Paparan zat kimia ini dikhawatirkan merusak cara hiu berburu dan bermigrasi.
Mengapa Ini Berbahaya?

Sebagai predator puncak, hiu menjaga populasi ikan lain. Jika sistem saraf mereka terganggu, seluruh rantai makanan di laut Bahama bisa ikut kacau. Selain itu, ini menjadi bukti nyata bahwa polusi laut bukan hanya soal plastik, tapi juga limbah kimia berbahaya.

Polusi bahan kimia seperti obat-obatan dan narkoba ini sering kali luput dari perhatian karena orang lebih fokus pada isu tumpahan minyak atau sampah plastik. Padahal, diam-diam polusi tak kasat mata ini sudah meracuni surga bawah laut kita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....