Fajar Kemenangan: Idul Fitri Pertama Rasulullah di Madinah

  • 20 Mar 2026 15:33 WIB
  •  Bengkulu
Poin Utama
  • Hari Raya Idul Fitri pertama Rasulullah di Madinah

RRI.CO.ID, Bengkulu - Bayangkan suasana Madinah di tahun kedua setelah Hijrah. Umat Muslim saat itu baru saja melewati dua ujian besar secara bersamaan: Puasa Ramadan pertama yang diwajibkan Allah, dan Perang Badar, pertempuran besar pertama melawan kaum Quraisy.

1. Kegembiraan yang Tak Terduga

Ketika hilal Syawal muncul, Rasulullah SAW mengumumkan bahwa hari itu adalah hari berbuka (Ied). Namun, kegembiraan warga Madinah saat itu bercampur aduk. Mereka baru saja kembali dari medan perang Badar dengan membawa kemenangan, namun juga rasa lelah dan duka bagi para syuhada.

2. Mengganti Tradisi Lama

Sebelum Islam datang, masyarakat Madinah memiliki dua hari raya warisan zaman Jahiliyah yang diisi dengan permainan dan pesta pora tanpa makna spiritual. Rasulullah SAW kemudian bersabda:

"Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari raya itu dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri."

3. Kepemimpinan yang empati di Hari Raya

Bagi Rasulullah salallahu'alaihiwasallam, hari kemenangan dan pelaksanaan salat berjamaah adalah momentum untuk mempererat kasih sayang antar sesama.

Beliau sangat menekankan agar para pemimpin ibadah memiliki rasa empati terhadap kondisi jemaahnya. Nabi berpesan dengan bijak kepada Utsman bin Abu Al-Ash:

"Wahai Utsman, jangan mengimami shalat terlalu lama dan perhatikanlah kondisi mereka karena di antara para makmum ada orang yang lanjut usia, anak kecil, orang lemah, dan orang yang memiliki keperluan."

Momen-momen ini menandai fase di mana Islam mendapat kedudukan terhormat di Madinah, mengakhiri masa penyiksaan dan memulai era ketaatan yang penuh kedamaian.

4. Pelaksanaan Shalat Ied Pertama

Berbeda dengan shalat lima waktu yang dilakukan di Masjid Nabawi, Rasulullah mengajak seluruh penduduk Madinah, pria, wanita, hingga anak-anak, untuk keluar menuju sebuah lapangan luas (Mushalla) di pinggiran kota.

  • Tanpa Adzan dan Iqamah: Shalat Id dilakukan secara berjamaah tanpa seruan adzan, menciptakan suasana yang khusyuk namun megah.
  • Jalur yang Berbeda: Rasulullah mencontohkan untuk berangkat melewati satu jalan dan pulang melewati jalan yang lain agar bisa menyapa lebih banyak orang dan berbagi kebahagiaan.
5. Zakat Fitrah: Jembatan Kasih Sayang

Di momen inilah kewajiban Zakat Fitrah mulai dijalankan. Rasulullah memastikan bahwa tidak boleh ada satu pun orang di Madinah yang kelaparan di hari kemenangan. Si kaya memberi kepada si miskin, sehingga semua orang bisa duduk bersama menikmati hidangan sederhana namun penuh berkah.

Idul Fitri pertama adalah titik balik di mana Islam bukan lagi sekadar keyakinan di hati, tapi sudah menjadi identitas sosial yang kuat melalui tradisi hari raya yang penuh kasih sayang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....