Sayuran Segar dari Hasil Pemupukan Non Kimia Banyak Diminati

  • 11 Mar 2026 14:09 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Sayuran segar yang ditanam menggunakan pupuk organik atau non kimia kini semakin diminati masyarakat. Selain dinilai lebih sehat, sayuran organik juga dianggap lebih aman untuk dikonsumsi karena tidak mengandung residu bahan kimia berbahaya. Salah satu pupuk organik yang banyak dimanfaatkan petani adalah kompos yang berasal dari kotoran ayam yang telah melalui proses pengolahan.

Proses pengomposan kotoran ayam biasanya melibatkan pencampuran dengan berbagai bahan organik lain yang kaya karbon, seperti serbuk gergaji, sekam padi, daun kering, atau jerami. Perbandingan antara bahan “hijau” seperti kotoran ayam dan bahan “cokelat” seperti daun kering atau jerami harus diperhatikan agar proses dekomposisi berjalan dengan baik. Komposisi yang tepat juga membantu mengurangi bau menyengat selama proses pengolahan.

Selain itu, proses aerasi atau sirkulasi udara juga sangat penting dalam pembuatan kompos. Petani biasanya membalik tumpukan bahan kompos secara berkala agar udara dapat masuk dan mempercepat proses penguraian. Dengan cara tersebut, mikroorganisme yang berperan dalam proses dekomposisi dapat bekerja secara optimal sehingga kompos lebih cepat matang.

Setelah melalui proses pengomposan selama beberapa minggu hingga beberapa bulan, kotoran ayam akan berubah menjadi kompos yang matang. Kompos ini biasanya berwarna gelap, bertekstur lebih halus, dan tidak lagi mengeluarkan bau tajam. Pupuk kompos dari kotoran ayam sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur tanah, serta menyediakan nutrisi penting bagi pertumbuhan tanaman.

Penggunaan pupuk organik dari kotoran ayam juga menjadi solusi dalam memanfaatkan limbah peternakan agar lebih bernilai guna. Dengan metode ini, petani dapat menghasilkan sayuran yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Tidak heran jika sayuran yang ditanam dengan pemupukan non kimia semakin banyak diminati oleh masyarakat yang peduli terhadap kesehatan dan kelestarian lingkungan.

Rekomendasi Berita