Melepaskan Pasangan yang Toxic: Keberanian untuk Menyelamatkan Diri

  • 03 Mar 2026 10:39 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Tidak semua hubungan yang diawali dengan cinta berakhir dengan kebahagiaan. Ada hubungan yang perlahan berubah menjadi sumber stres, tekanan, bahkan luka batin. Relasi seperti ini sering disebut hubungan toxic—hubungan yang tidak lagi sehat karena dipenuhi manipulasi, kontrol berlebihan, merendahkan pasangan, atau kekerasan emosional maupun fisik.

Melepaskan pasangan toxic bukan perkara mudah. Namun, para ahli sepakat bahwa mempertahankan hubungan yang merusak justru berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik seseorang.

Ada baiknya kenali ciri-ciri hubungan Toxic, agar terhindar dalam sebuah hubungan yang tidak sehat. Hubungan toxic biasanya ditandai dengan pola yang berulang, seperti: pasangan sering menyalahkan dan meremehkan, mengontrol pergaulan dan aktivitas, memanipulasi dengan rasa bersalah dan seringkali siklus menyakiti lalu meminta maaf tanpa perubahan nyata.

Psikolog klinis dan penulis buku Why Does He Do That?, Lundy Bancroft, menjelaskan bahwa perilaku manipulatif dan kontrol dalam hubungan bukan sekadar masalah emosi sesaat, tetapi sering kali merupakan pola kekuasaan yang disengaja untuk mendominasi pasangan. Dalam situasi ini, korban kerap dibuat merasa bersalah atas kesalahan yang tidak dilakukannya.

Secara psikologis, banyak orang terjebak dalam apa yang disebut trauma bonding—ikatan emosional yang kuat akibat siklus luka dan harapan. Psikolog dan peneliti hubungan, John Gottman, menyebut bahwa hubungan sehat dibangun atas dasar rasa hormat dan keseimbangan emosi. Ketika penghinaan, kritik tajam, dan sikap defensif lebih dominan daripada apresiasi, hubungan tersebut berisiko tinggi menjadi tidak sehat.

Selain itu, ketakutan akan kesepian, tekanan sosial, atau harapan bahwa pasangan akan berubah sering menjadi alasan seseorang bertahan. Padahal, perubahan sejati hanya terjadi jika ada kesadaran dan komitmen kuat dari pelaku, bukan sekadar janji.

Menurut psikiater dan penulis The Body Keeps the Score, Bessel van der Kolk, stres emosional yang berlangsung lama dapat meninggalkan jejak pada tubuh dan otak. Hubungan yang penuh tekanan bisa memicu kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga penurunan rasa percaya diri.

Bertahan dalam hubungan toxic bukan hanya menyakitkan secara emosional, tetapi juga berdampak nyata pada kesehatan jangka panjang. Jika Anda menyadari berada dalam hubungan toxic, keluar dalam hubungan adalah yang terbaik.

Seringkali korban menyangkal (denial) kenyataan, baiknya jangan terus membenarkan perilaku yang menyakiti Anda. Bangun sistem dukungan dengan libatkan keluarga, sahabat, atau konselor profesional.

Tetapkan batasan tegas juga akan menyelamatkan hubungan anda. Hindari ruang untuk manipulasi ulang.

Terpenting adalah prioritaskan keselamatan diri anda. Jika ada kekerasan, cari bantuan lembaga atau pihak berwenang.

Psikolog hubungan Harriet Lerner menekankan pentingnya keberanian menetapkan batasan (boundaries) sebagai bentuk penghormatan terhadap diri sendiri. Tanpa batasan yang jelas, pola hubungan tidak sehat cenderung terus berulang.

Melepaskan pasangan toxic bukan berarti gagal dalam cinta. Justru, itu adalah langkah untuk menyelamatkan diri dan membuka ruang bagi hubungan yang lebih sehat. Prosesnya mungkin tidak instan—akan ada rasa sedih, rindu, bahkan keraguan. Namun, setiap langkah menjauh dari hubungan yang merusak adalah langkah mendekat pada kehidupan yang lebih damai.

Isi kembali hidup Anda dengan aktivitas positif, refleksi diri, dan dukungan profesional jika diperlukan. Ingatlah bahwa cinta sejati tidak membuat Anda takut, tertekan, atau kehilangan jati diri. Karena pada akhirnya, mencintai diri sendiri adalah fondasi dari setiap hubungan yang sehat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....