Sang Pangeran Hutan yang Pemalu: Mengenal Rufous-collared Kingfisher
- 27 Feb 2026 12:10 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Di balik rimbunnya kanopi hutan hujan Asia Tenggara, terdapat sosok pemburu yang jarang terlihat namun memiliki penampilan yang memukau. Rufous-collared Kingfisher, atau yang secara lokal dikenal sebagai Cekakak-Hutan Melayu, merupakan permata tersembunyi bagi para pengamat burung dunia.
Meski menyandang nama "Kingfisher" (Raja Udang), burung ini justru lebih sering ditemukan jauh dari sumber air. Berikut adalah fakta-fakta unik yang menyelimuti kehidupan sang pangeran hutan ini:
1. "Kerah" yang Menjadi Identitas
Sesuai namanya, burung ini memiliki ciri khas berupa pita berwarna cokelat kemerahan (rufous) yang melingkari lehernya. Penampilan jantan dan betina memiliki perbedaan yang mencolok (dimorfisme seksual):
Jantan: Memiliki punggung berwarna biru tua yang kontras.
Betina: Memiliki punggung hijau bintik-bintik, yang merupakan kamuflase sempurna di antara dedaunan.
2. Kingfisher yang Tidak Makan Ikan
Berbeda dengan sepupunya yang gemar menukik ke sungai, Rufous-collared Kingfisher adalah spesialis darat. Diet utamanya terdiri dari:
Invertebrata: Jangkrik, kumbang, dan lipan.
Vertebrata Kecil: Siput hutan, kadal, bahkan terkadang ular kecil. Mereka berburu dengan cara diam mematung di dahan rendah sebelum menyambar mangsa di permukaan tanah.
3. Suara yang Menghantui
Banyak orang lebih sering mendengar suaranya daripada melihat wujudnya. Kicauannya berupa siulan panjang yang sedih dan meratap, biasanya terdengar pada saat fajar atau senja, menambah kesan mistis di dalam hutan primer.
4. Arsitek Lubang Tanah
Alih-alih membuat sarang di atas pohon, burung ini lebih memilih menggali lubang di tanggul tanah yang curam atau gundukan rayap yang sudah tua. Mereka adalah pekerja keras yang menggunakan paruh kokohnya untuk menciptakan terowongan perlindungan bagi telur-telurnya.
5. Status Konservasi yang Mengkhawatirkan
Sayangnya, keindahan ini terancam. Akibat hilangnya hutan dataran rendah secara masif di wilayah Sundaland (Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan), populasi mereka terus menurun. Saat ini, mereka dikategorikan sebagai spesies Hampir Terancam (Near Threatened) oleh IUCN.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....