Benarkah Pasir di Pantai Berasal dari Bintang?

  • 04 Feb 2026 22:25 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu — Pernahkah Anda menggenggam segenggam pasir dan berpikir bahwa Anda sedang memegang sisa-sisa ledakan bintang? Kedengarannya seperti fiksi ilmiah, namun para astronom dan ahli geologi mengonfirmasi bahwa secara atomik, pasir memang memiliki asal-usul “surgawi”.

Astrofisikawan NASA, Dr. Michelle Thaller, menjelaskan bahwa unsur-unsur penyusun pasir tidak tercipta secara instan. “Unsur-unsur berat seperti silikon dan oksigen terbentuk melalui reaksi fusi nuklir di dalam inti bintang dan tersebar ke ruang angkasa saat terjadi ledakan supernova,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Pasir sebagian besar tersusun atas silika atau silikon dioksida. Unsur silikon dan oksigen ditempa dalam suhu ekstrem jutaan derajat di pusat bintang. Ketika bintang masif mencapai akhir masa hidupnya, ledakan supernova menyebarkan debu kosmis ke seluruh alam semesta, yang kemudian menjadi bahan dasar pembentukan planet, termasuk Bumi.

Menurut ahli geologi dari United States Geological Survey (USGS), Dr. David Rogers, proses tersebut tidak berhenti di ruang angkasa. “Debu kosmis yang membentuk batuan di Bumi selanjutnya mengalami pelapukan dan erosi selama jutaan tahun hingga berubah menjadi pasir,” jelasnya.

Perjalanan butiran pasir pun berlangsung sangat panjang, mulai dari terbentuk di dalam bintang, membeku menjadi batuan, terkikis oleh hujan dan angin, hingga akhirnya terbawa sungai ke pesisir pantai. Proses alami inilah yang membentuk pasir yang kini banyak ditemukan di berbagai wilayah.

Profesor astrofisika Universitas Harvard, Dr. Lisa Randall, menegaskan keterkaitan manusia dengan alam semesta. “Kita secara harfiah terbuat dari debu bintang. Material penyusun planet dan makhluk hidup berasal dari sisa-sisa ledakan bintang purba,” katanya.

Selain memiliki asal-usul kosmik, pasir juga memiliki karakteristik yang beragam. Peneliti geologi kelautan, Dr. Rudi Hartono, menyebutkan bahwa warna pasir menunjukkan sumber pembentuknya. “Pasir hitam umumnya berasal dari material vulkanik, sedangkan pasir putih banyak mengandung kalsium karbonat dari sisa organisme laut,” ujarnya.

Di sisi lain, laporan United Nations Environment Programme (UNEP) mengungkapkan bahwa pasir kini menjadi sumber daya yang semakin terbatas. “Permintaan global terhadap pasir untuk kebutuhan konstruksi meningkat tajam, sehingga memicu krisis pasokan di berbagai negara,” tulis UNEP dalam laporannya.

Dengan demikian, pasir bukan sekadar butiran kecil di tepi pantai, melainkan saksi bisu perjalanan panjang alam semesta. Saat bersantai di pesisir, manusia sejatinya tengah bersentuhan dengan materi yang pernah menjadi bagian dari jantung bintang yang bersinar terang di angkasa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....