Dari Bengkulu untuk Bumi, Kearifan Lokal Selamatkan Alam Bengkulu
- 01 Apr 2026 11:16 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu: Di tengah geliat pembangunan yang terus meningkat, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: daya dukung lingkungan. Di Provinsi Bengkulu, persoalan ini bukan sekadar wacana, melainkan realitas yang perlahan terasa dampaknya. Hutan yang berkurang, lahan yang terdegradasi, serta kualitas air yang menurun menjadi tanda bahwa hubungan manusia dengan alam mulai kehilangan keseimbangannya.
Pembangunan memang penting, tetapi tanpa kendali, ia dapat berubah menjadi ancaman. Pertanyaannya, apakah kita akan terus mengejar pertumbuhan dengan mengorbankan lingkungan, atau mulai mencari cara untuk menyeimbangkan keduanya?
Kerusakan lingkungan di Bengkulu bukan terjadi tanpa sebab. Alih fungsi lahan dari kawasan hutan menjadi perkebunan dan permukiman menjadi fenomena yang terus berlangsung. Praktik penebangan hutan, pertanian yang tidak ramah lingkungan, serta eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan semakin memperparah kondisi ini. Dampaknya tidak hanya terlihat pada lanskap yang berubah, tetapi juga pada meningkatnya risiko bencana seperti banjir dan erosi.
Di sisi lain, Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Provinsi Bengkulu dalam beberapa tahun terakhir berada pada kategori sedang dengan kecenderungan fluktuatif. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya perbaikan lingkungan memang ada, namun belum mampu mengimbangi tekanan yang terus meningkat terhadap ekosistem.
Selama ini, solusi terhadap persoalan lingkungan seringkali bertumpu pada regulasi dan teknologi. Padahal, ada satu pendekatan yang kerap terlupakan, yaitu pendekatan berbasis nilai dan budaya. Dalam konteks ini, Bengkulu sebenarnya memiliki kekayaan kearifan lokal yang sangat relevan untuk menjawab persoalan lingkungan.
Sebagai alternatif, pendekatan dalam Filsafat Lingkungan melalui perspektif ekosentrisme menawarkan kerangka berpikir yang lebih komprehensif. Ekosentrisme menekankan bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem, sehingga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan alam.
Menariknya, nilai-nilai tersebut telah lama hidup dalam kearifan lokal masyarakat Bengkulu, salah satunya melalui ungkapan “ikan sejerek, bere secupak” adalah salah satunya. Secara sederhana, ungkapan ini mengajarkan hidup secukupnya—mengambil dari alam tidak lebih dari yang dibutuhkan. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan nilai etika lingkungan yang sangat kuat.
Filosofi ini mengajarkan bahwa alam bukanlah objek yang bebas dieksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. Mengambil ikan secukupnya berarti memberi ruang bagi ekosistem untuk tetap hidup. Mengonsumsi secukupnya berarti menghindari pemborosan yang pada akhirnya berdampak pada lingkungan.
Nilai ini sejatinya sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang saat ini digaungkan secara global. Namun ironisnya, ketika dunia modern baru mulai menyadari pentingnya prinsip tersebut, masyarakat lokal justru mulai meninggalkannya.
Gaya hidup konsumtif, orientasi ekonomi yang berlebihan, serta pengaruh globalisasi telah menggeser nilai-nilai kearifan lokal. Apa yang dahulu menjadi pedoman hidup kini perlahan dianggap usang. Akibatnya, kontrol sosial terhadap eksploitasi lingkungan semakin melemah.
Padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, kearifan lokal dapat menjadi solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan. Berbeda dengan regulasi yang seringkali bersifat formal dan kaku, kearifan lokal hidup dalam kesadaran masyarakat. Ia tidak memaksa, tetapi membentuk perilaku secara alami.
Oleh karena itu, sudah saatnya kearifan lokal tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam menjaga lingkungan. Pemerintah daerah dapat mengintegrasikan nilai-nilai ini ke dalam kebijakan pembangunan. Dunia pendidikan dapat menjadikannya sebagai bagian dari pembelajaran. Sementara masyarakat dapat menghidupkannya kembali dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Kerusakan lingkungan bukanlah persoalan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Ia membutuhkan komitmen jangka panjang dan pendekatan yang menyeluruh. Dalam konteks ini, kearifan lokal seperti “ikan sejerek, bere secupak” menawarkan jalan yang sederhana namun bermakna.
Bengkulu tidak kekurangan nilai untuk menjaga alamnya. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk kembali pada nilai-nilai tersebut dan menjadikannya bagian dari kehidupan modern. Sebab pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya soal kebijakan, tetapi soal kesadaran. Jika manusia mampu menahan diri untuk tidak mengambil lebih dari yang dibutuhkan, maka alam pun akan tetap memberi lebih dari yang diharapkan.
Dari Bengkulu untuk bumi, pesan ini menjadi penting untuk ditegaskan bahwa solusi terhadap krisis lingkungan tidak selalu harus datang dari luar, tetapi dapat bersumber dari kearifan lokal yang telah lama hidup dalam masyarakat. Tinggal bagaimana nilai-nilai tersebut dihidupkan kembali dan diintegrasikan dalam pembangunan yang berkelanjutan.
(Oleh: Ema Septaria, Khairi Ardiansyah, Firman Hidayat, Rizki Wulandari)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....