AKN RL Luncurkan Pemberdayaan Desa Terhadap Pupuk Organik-Kopi Premium

  • 13 Nov 2025 18:27 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu – Akademi Komunitas Negeri Rejang Lebong (AKN Rejang Lebong) meluncurkan program pemberdayaan petani di Desa IV Suku Menanti, Kecamatan Sindang Dataran. Program ini mengusung inovasi teknologi pupuk organik berbasis limbah pertanian dan peternakan untuk memperkuat budidaya kopi premium.

Mengolah Limbah Jadi Berkah. Desa IV Suku Menanti dikenal sebagai salah satu sentra pengembangan kopi terbesar di Provinsi Bengkulu dengan luas lahan perkebunan mencapai 700 hektar. Mayoritas penduduk menggantungkan hidup sebagai petani kopi, menjadikan komoditas ini tulang punggung ekonomi masyarakat setempat.

Kiky Nurfitri Sari, S.P., M.Si., Ketua Tim Pelaksana dari AKN Rejang Lebong menjelaskan, program ini melibatkan dua kelompok mitra utama: Embek Community dan Kelompok Tani Airlangga.

"Embek Community sudah menginisiasi produksi pupuk organik dari limbah kulit kopi dan kotoran kambing. Namun kualitasnya belum optimal. Kami hadir dengan inovasi teknologi fermentasi berbasis ecoenzyme sebagai aktivator dan bioenzim," ujar Kiky.

Teknologi Ecoenzyme sebagai Solusi Ecoenzyme merupakan cairan hasil fermentasi bahan organik yang mengandung mikroba baik sebagai aktivator alami. Teknologi ini mampu mempercepat proses fermentasi pupuk organik sekaligus meningkatkan kandungan hara yang dibutuhkan tanaman.

Saat ini, Embek Community memproduksi sekitar 500 karung pupuk organik per bulan dengan harga Rp30.000 per karung. Dengan penerapan teknologi baru, produktivitas diharapkan meningkat minimal 50 persen dengan kualitas yang lebih konsisten.

"Limbah kulit kopi bisa mencapai 80-150 kg per hari saat musim panen. Ditambah kotoran kambing sekitar 560-1.050 kg per minggu. Potensinya sangat besar jika dikelola dengan baik," tambah Muhammad Hakim, S.Pt., M.Pt., anggota tim pelaksana.

Mendongkrak Kualitas Kopi Premium. Kelompok Tani Airlangga, mitra kedua dalam program ini, fokus pada peningkatan produksi kopi premium. Saat ini produktivitas lahan mereka masih rendah, hanya 750 kg per hektar, akibat degradasi tanah dari penggunaan pupuk kimia berlebihan.

Program ini menawarkan solusi budidaya kopi organik dengan memanfaatkan pupuk organik hasil olahan limbah. Teknik panen petik merah dan penanganan pascapanen melalui sistem terkontrol juga diajarkan untuk menghasilkan kopi berkualitas premium. "Target kami meningkatkan produksi minimal 30 persen dan 80 persen petani menerapkan teknik petik merah. Ini akan mengangkat citra kopi Rejang Lebong di pasar," jelas Andika Prawanto, S.Si., M.Si., anggota tim.

Pelatihan Komprehensif dari Hulu ke Hilir. Kegiatan pelatihan diawali dengan penyampaian materi teori dan praktik oleh Ketua Tim Pengabdian, Ibu Kiky Nurfitri Sari, S.P., M.Si., yang meliputi pelaksanaan pelatihan teknologi fermentasi berbasis ecoenzyme, pendampingan praktik pembuatan pupuk organik fermentasi, serta penyusunan dan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi.

Selanjutnya, Andika Prawanto, S.Si., M.Si. memimpin kegiatan pelatihan budidaya organik dan panen petik merah, penerapan teknologi budidaya kopi organik pada lahan mitra, serta memberikan materi mengenai pascapanen dan penanganan kualitas produk.

Sementara itu, Muhammad Hakim, S.Pt., M.Pt. bertanggung jawab dalam pendampingan penyusunan rencana usaha tani bagi kelompok mitra kedua, pelatihan strategi branding dan diferensiasi produk, strategi promosi serta akses pasar, termasuk evaluasi dan monitoring program, serta penyusunan SOP budidaya dan manajemen produk. Program pengabdian yang berlangsung selama satu hingga tiga tahun ini tidak hanya berfokus pada peningkatan aspek produksi, tetapi juga mencakup pelatihan manajemen usaha, desain kemasan, branding, hingga pemasaran digital bagi kedua kelompok mitra. Selain itu, tim pengabdian turut berperan dalam membantu mitra mengembangkan kemampuan promosi digital.

“Kami juga mendampingi mitra dalam membuat akun media sosial dan marketplace, serta menyusun strategi promosi online agar produk mereka dapat menjangkau pasar yang lebih luas,” ungkapnya.

Dukungan Dana dan Infrastruktur Program pemberdayaan desa untuk tahun pertama ini juga menyediakan berbagai peralatan teknologi tepat guna, antara lain mesin penghancur kompos, mixer pengaduk kapasitas 100 kg, hingga rumah jemur berkapasitas 2 ton untuk pengeringan kopi. Empat mahasiswa Program Studi Budidaya Tanaman Hortikultura AKN Rejang Lebong juga dilibatkan aktif dalam program ini sebagai bagian dari pembelajaran di luar kampus.

Sejalan dengan Asta Cita dan SDGs. Program ini sejalan dengan Asta Cita Pembangunan Nasional nomor 2 tentang kemandirian bangsa melalui swasembada pangan. Selain itu, mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 1 (Tanpa Kemiskinan), poin 2 (Tanpa Kelaparan), dan poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).

"Kami ingin menjadikan Desa IV Suku Menanti sebagai model percontohan desa binaan yang mengintegrasikan riset dan pemberdayaan masyarakat untuk pembangunan berkelanjutan," tutup Kiky.

Target program ini adalah meningkatkan pendapatan petani minimal 25-30 persen, menciptakan unit usaha kelompok yang aktif, dan menghasilkan produk pupuk organik berstandar serta kopi premium yang mampu bersaing di pasar lokal hingga regional.

Terima kasih diucapkan kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi atas bantuan pelaksanaan kegiatan Pemberdayaan Berbasis Kewilayahan, Skema Pemberdayaan Desa Binaan anggaran tahun 2025 berdasarkan kontrak sesuai kontrak dengan Nomor : 351/C3/DT.05.00/PM-Multitahun/2025. Terima kasih kepada Kelompok Tani Airlangga dan Kelompok Tani Embek Community di Desa IV Suku Menanti, Kecamatan Sindang Dataran, Kabupaten Rejang Lebong kerjasamanya sehingga kegiatan dapat dilaksanakan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....