Mengenal Kompang dan Pantun Teluk Pesisir, Warisan Budaya Melayu Desa Teluk Papal
- 11 Agt 2026 20:53 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Kompang adalah jenis musik dan nama alat musik tradisional yang memiliki kemiripan dengan Rebana dan dikenal pada kalangan masyarakat Melayu. Alat musik ini termasuk ke dalam jenis alat musik membranophone dan merupakan kelompok alat musik gendang.
Kompang merupakan seni pertunjukan yang berlandaskan Islam dan biasanya ditampilkan pada upacara perkawinan, khitanan, muharam, akikah dan sebagainya. Alat musik ini menjadi kesenian tradisional yang masih berkembang, di antaranya di wilayah Provinsi Riau. Salah satu daerah di Provinsi Riau yang terkenal akan tradisi kompangnya adalah Kabupaten Bengkalis, yang mana setiap kecamatan di daerah tersebut masih melestarikan kesenian kompang.
Terdapat salah satu kecamatan di Kabupaten Bengkalis, yaitu Kecamatan Bantan yang masih melestarikan kesenian Kompang, tepatnya kesenian Kompang Teluk Pesisir yang berada di Desa Teluk Papal. Kompang Teluk Pesisir merupakan kesenian Kompang yang terdapat di salah satu dusun di Desa Teluk Papal, yakni Dusun Teluk Pesisir.
Kesenian tersebut dimulai sejak tahun 1995 oleh Malik yang merupakan pengajar kompang di dusun tersebut. Setelah Malik meninggal dunia, kesenian Kompang Teluk Pesisir kemudian dilanjutkan oleh Saidi dan Firdaus dengan nama grup Kompang Nurul Hidayah. Seiring berjalannya waktu, terdapat penyelenggaraan kegiatan festival dan pertandingan kesenian kompang yang membuat orang-orang ikut berpartisipasi sehingga membuat kesenian Kompang Nurul Hidayah Teluk Pesisir mulai dikenal.

Selama berkecimpung dalam dunia kesenian Kompang Nurul Hidayah Teluk Pesisir, grup kompang Nurul Hidayah sering meraih juara kompang di tingkat kecamatan, yaitu juara satu sebanyak dua kali tepatnya pada tahun 2022 dan 2023. Akan tetapi, ia belum pernah menjadi juara di tingkat kabupaten meskipun sudah pernah mengikuti acara.
Sejak saat itu, banyak orang yang mulai mengetahui tentang kesenian Kompang Teluk Pesisir sehingga membuat banyak masyarakat dari luar daerah mendatangi Dusun Teluk Pesisir untuk menemui Saidi dan Firdaus karena reputasinya sebagai penerus kesenian Kompang Teluk Pesisir. Kemampuannya tersebut kemudian membuat dirinya diminta untuk mengajarkan kompang di tempat lain, seperti di Bantan Tengah, Selat Baru, Berancah, Bantan Air dan Mentayan sesuai dengan cara yang diajarkan oleh Malik. Berkat kontribusi Saidi dan Firdaus, kesenian Kompang Teluk Pesisir menjadi populer.
Dalam perkembangannya, tidak terdapat perbedaan antara Kompang Melayu dan Kompang Jawa, melainkan hanya berbeda versi saja. Kesenian Kompang Teluk Pesisir lebih disukai oleh masyarakat karena sholawat yang dibawakan dianggap lebih enak didengar dan variasi pukulan yang ada juga lebih enak dimainkan dan didengar, sehingga banyak orang yang meminta untuk diajarkan.
Kesenian Kompang Teluk Pesisir kemudian semakin berkembang karena ditampilkan pada acara pesta pernikahan dan juga direkomendasikan untuk ditampilkan pada kegiatan pawai ta’aruf MTQ. Satu regu pada kesenian Kompang Teluk Pesisir biasanya beranggotakan 16 orang hingga lebih. Susunan anggotanya terdiri dari:
1. Pukulan mecah dan merabun (sepasang)
2. Teratet panjang (sepasang) dan teratet pendek (sepasang)
3. Pukulan 15 (satu orang) dan pukulan 12 (satu orang)
4. Ngendung dan pecah ngendung (berbeda, namun berpasangan)
5. Nginen (sepasang)
6. Ngendung jarang (sepasang)
7. Tompleng (sepasang)
Ketika seluruh pukulan tersebut dipadukan, maka akan menghasilkan bunyi kompang seperti yang dikenal sekarang. Sholawat yang dibawakan pada kesenian kompang berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan bacaan ayat Al Barzanji digunakan untuk mengiringi alunan suara kompang.
Terdapat 16 jenis alunan yang dibawakan, yaitu abi bakrin, dishari, tanakal, wulidal, innahaji, alham, badat, yanabi, falakam, faturkol, fazad, taalam, manmis, ya maulidal, soul laila, dan taalaubina. Terdapat salah satu bacaan yang biasanya dibawakan pada kesenian Kompang Teluk Pesisir pada saat rewang, yaitu alham.
Kompang Teluk Pesisir dikenal sebagai Kompang Melayu yang diajarkan oleh Malik hingga khatam dalam waktu kurang lebih 4 bulan pada tahun 1995. Sejak saat itu, tradisi khatam kompang telah berlangsung dari tahun 1995 hingga sekarang.
Kesenian Kompang Teluk Pesisir masih bertahan sampai sekarang karena selalu dibawakan dalam acara pernikahan sehingga bisa terus eksis di tengah masyarakat. Selain itu, terdapat juga festival kesenian kompang yang diadakan sekitar enam hingga rujuh tahun terakhir oleh Dinas Pariwisata Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bengkalis atau Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Bengkalis meskipun dengan jadwal yang tidak menentu serta tergantung pada program kerja dinas terkait.
Selain kesenian Kompang Teluk Pesisir, terdapat juga kesenian Pantun Teluk Pesisir. Kesenian tersebut berawal dari sejarah pantun yang pada awalnya merupakan bahasa sehari-hari masyarakat Melayu secara umum. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kebiasaan tersebut mulai hilang. Pada zaman dahulu, apabila suatu masyarakat sedang berkumpul bersama tanpa berpantun, suasana berkumpul tersebut terasa kurang lengkap.

Sekarang, pantun hanya digunakan pada acara formal, yakni acara adat. Kegunaannya secara umum pada zaman dahulu adalah sebagai media komunikasi pada acara merisik, bertunang dan hantaran belanja. Pada acara pernikahan, pantun biasanya digunakan sejak awal acara dimulai hingga selesai.
Pantun mulai diperlombakan pertama kali pada tahun 2000. Pada saat perhelatan seni, biasanya terdapat pantun, syair, langgam Melayu, dan berbagai cabang lainnya. Selain berkecimpung dalam kesenian Kompang Teluk Pesisir, Saidi juga berkecimpung dalam dunia pantun sejak SMP, yakni pada tahun 2012. Pada saat itu, ia mewakili Kabupaten Bengkalis dari sekolahnya untuk mengikuti perhelatan seni di tingkat provinsi dan berhasil meraih juara dua se-Provinsi Riau.
Setelah itu, Saidi disarankan oleh gurunya untuk mendalami ilmu pantun. Ia selalu mewakili sekolahnya pada setiap acara pantun sejak SMP hingga SMA bahkan perguruan tinggi. Saidi juga meraih juara pada tingkat kabupaten sebanyak tiga kali, juara pada tingkat provinsi sebanyak dua kali dan terakhir kali meraih juara pada tahun 2026.
Sejak masih berkuliah hingga lulus dari politeknik, ia terus mendalami ilmu pantun untuk kegiatan adat dan kemasyarakatan. Selama menjadi pengajar pantun, Saidi telah mendidik dan mengajari pantun kepada enam orang, khususnya mengajari anak-anak di Desa Teluk Papal. Anak-anak yang diajari oleh dirinya banyak mengikuti serta meraih juara pada berbagai acara pantun. Selain sebagai pengajar pantun, Saidi juga menjadi tokoh adat di Dusun Teluk Pesisir.
Biasanya, ia hanya menggunakan pantun pada acara merisik, meminang, hantar belanja, tepuk tepung tawar dan acara palang pintu. Namun, Saidi sekarang selalu diundang untuk mengisi acara pantun, bukan hanya di Desa Teluk Papal, melainkan di desa-desa lain di Kecamatan Bantan maupun Kecamatan Bengkalis.
Desa Teluk Papal, bersama dengan anggota dewan Bengkalis, berencana menjadikan wilayah tersebut sebagai kampung bermadah. Bermadah memiliki artian sebagai pusat budaya di Dusun Teluk Pesisir. Ciri khas pantun di Dusun Teluk Pesisir adalah menggunakan bahasa Melayu lama yang dahulu hanya digunakan di Dusun Teluk Pesisir. Salah satu kosakata yang sering dipakai dalam berpantun adalah beranak pinak, mengintil, segak, congak, dan masih banyak lainnya.
Ketika kosakata tersebut dimasukkan ke dalam pantun dan dipahami, seseorang akan tahu bahwa ini merupakan bahasa Melayu asli dari Dusun Teluk Pesisir. Semuanya diajarkan secara turun-temurun dari nenek moyang dan tidak terdapat panduan yang spesifik.
Salah satu kelompok kompang yang paling terkenal adalah kelompok Nurul Hidayah di Dusun Teluk Pesisir. Setelah Malik meninggal dunia, kesenian Kompang Teluk Pesisir dilanjutkan oleh Firdaus dan Saidi dan disisi lain Saidi juga berperan sebagai pengajar pantun.
Penulis: Kevin (Mahasiswa program studi manajemen angkatan 2023 di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada dan Anggota Tim KKN-PPM UGM Binar Bengkalis tahun 2026)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....