Mengenal Sejarah Kampung Zapin Desa Meskom, Bengkalis-Riau
- 21 Sep 2024 11:09 WIB
- Bengkalis
KBRN, Bengkalis : Kampung Zapin adalah identitas yang disandang Desa Meskom. Desa yang berada di ujung paling barat dari Kota Bengkalis, sebelum Desa Perapat Tunggal. Desa Meskom yang berjarak sekitar 13 kilometer dari Kota Bengkalis ini juga punya sejarah panjang.
Dengan identitasnya sebagai "Kampung Zapin" karena identik dengan tarian zapin tradisi yang masih bertahan hingga sekarang sehingga banyak pengunjung datang ke desa ini baik untuk menyaksikan persembahan tari tradisional bernuansa Islami maupun sebagai tugas yang diembannya.
Mengutip dari laman situs Riau Magazine, Zapin secara umum adalah seni dari Arab yang menyebar ke seantero wilayah Riau. Di Siak dan Bengkalis menjadi daerah penyebaran awal dari seni Zapin ini karena berada di pesisir pantai yang lambat laun kemudian menjadi budaya masyarakat setempat dimana budaya sebagai gagasan dan hasil karya manusia dalam kehidupan bermasyarakat menjadi milik masyarakat tersebut.
Zapin merupakan seni musik diiringi gambus, rebana dan marwas. Seni gerak tari Zapin yang berkembang di Istana Siak Sri Indrapura oleh Sayed Umar sekitar abad ke 16/17. Zapin yang dahulunya hanya dimainkan di istana, kemudian seiring perjalanan waktu khususnya ketika zaman kolonial Belanda maka Zapin bergeser ke ceruk kampung.
Di Bengkalis dikembangkan lebih lanjut oleh Abdullah Noer asal Deli Medan sekitar tahun 1930-an yang sekaligus merupakan guru dari Muhammad Yazid bin Tomel asal Meskom. Sehingga Zapin ini lebih dikenal sebagai Zapin Meskom. Muhammad Yazid, yang lahir di Bengkalis 1925 dikenal sebagai tokoh Zapin Meskom tak henti-hentinya terus berkarya dengan Zapin Meskom.
Beliau wafat pada tanggal 23 September 2010 pada umur 85 tahun. Dimakamkan di Tanah Pekuburan Masjid Al Hadi Taqwa, Dusun Langgam, Desa Teluk Letak, Kecamatan Bengkalis – Bengkalis - Riau.
Semasa hidupnya, Muhammad Yazid bin Tomel menerima sejumlah penghargaan, di antaranya Anugerah Sagang Kencana sebagai penghargaan perjuangan beliau dalam memelihara dan mengembangkan seni tradisi Zapin Melayu. Beliau telah mencipta lebih dari 20 bunga pecahan tari Zapin salah satunya Tari Zapin Cino Buto.
Selain itu beliau juga menerima Anugerah Seniman Tradisi dari Dinas Kebudayaan, Kesenian dan Pariwisata Provinsi Riau Tahun 2005 serta Anugerah Kebudayaan sebagai Maestro Seni Tari Zapin dari Pemerintah Republik Indonesia tahun 2010, beberapa waktu sebelum beliau meninggal.
Yazid pandai berzapin dari ayahnya, Tomel dan selanjutnya berguru kepada Abdullah Noer, Ares dan Cik Muhammad sekitar pertengahan tahun 1930-an. Belajar secara sembunyi-sembunyi karena Belanda melarang masyarakat untuk berkumpul atau berkerumun yang dicurigai akan memicu perlawanan terhadap Belanda. Yazid berkumpul dengan gurunya di kebun untuk belajar menari Zapin satu atau dua ragam gerak tari.
Sekitar 1950-an, Yazid makin dikenal di Bengkalis bersama penari lainnya seperti Hasan, Harun, M. Yusuf, Hasan Matero dan M. Ali. Mereka keluar masuk kampung menari Zapin untuk meramaikan berbagai hajatan rakyat. Untuk mengembangkan Zapin Meskom, maka Yazid pada tahun 1998 mendirikan Sanggar Yarnubih yang merupakan singkatan dari nama Yazid, Nur dan Ebih.
Melalui sanggar ini Yazid telah berzapin di Riau, Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Johor serta Melaka. Kini, Desa Meskom dikenal sebagai Kampung Zapin yang kental dengan nuansa zapin klasik yang menanamkan identitas budaya melayu kepada anak-anak muda Bengkalis secara khususnya, dan Riau secara umumnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....