Tari Persembahan Melayu Riau Simbol Penghormatan Tamu Agung

  • 22 Agt 2024 11:27 WIB
  •  Bengkalis

KBRN, bengkalis : Tari Persembahan adalah tarian tradisional Melayu yang biasa dipentaskan untuk menyambut kedatangan tamu agung atau tamu negara. Tari Persembahan berasal dari Riau, yang kini menjadi Provinsi Riau dan Kepulauan Riau, berdasarkan hasil pemekaran pada 2002.

Melansir disbud.kepriprov.go.id, lahirnya Tari Persembahan bermula dari musyawarah yang digelar di Pekanbaru pada 1957. Dalam musyawarah tersebut, ditampilkan tarian dan lagu-lagu Melayu Riau, seperti Tari Serampang Dua Belas, Tari Mak Inang Pulau Kampai, Tari Tanjung Katung, dan Tari Lenggang Patah Sembilan.

Tari Persembahan Melayu Riau berawal mula bernama Tari Makan Sirih yang digarap oleh Datuk O.K Nizami Jamil bersama Alm Johan Syarifuddin tahun 1957 dan ditampilkan pertama kali pada upacara penyambutan Kongres Pemuda, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Riau, kemudian diberi nama patennya Tari Persembahan Melayu Riau.

Tari persembahan merupakan tari Melayu yang biasa dipentaskan untuk menyambut kedatangan tamu agung. Tari ini dibawakan oleh 5-9 orang (dan seringnya berjumlah ganjil) dengan satu orang yang dianggap spesial karena membawa tepak sebagai persembahan kepada tamu.

Penari tari persembahan (Foto dok.Rep.RRI/RF)

Saat pertunjukan, salah satu penari dalam tari persembahan akan membawa kotak yang berisi sirih. Sirih dalam kotak tersebut kemudian dibuka dan tamu yang dianggap agung diberi kesempatan pertama untuk mengambilnya sebagai bentuk penghormatan, kemudian diikuti oleh tamu yang lain. Karenanya, banyak orang yang menyebut tari persembahan Riau dengan sebutan tari sekapur sirih. Bagi masyarakat Riau, sirih bukan hanya sekedar benda. Sirih juga menjadi media perekat dalam pergaulan. Melalui tarian, masyarakat Riau telah menunjukkan kesadaran bahwa manusia saling berhubungan dengan manusia lainnya. Kesadaran sosial tersebut kemudian mampu menumbuhkan komunikasi yang baik, saling menghargai, dan menghormati terhadap sesama manusia. Adanya tari penyambutan untuk tamu menunjukkan bahwa, orang Melayu sangat menghargai hubungan persahabatan dan kekerabatan.

Filosofi pemberian tepak yang berisi sirih ini sangat tinggi. Karena apabila tamu yang diberi sirih tidak mengambil (memakannya) maka dianggap tidak sopan. Bahkan pada zaman kerajaan dahulu, raja akan murka bila sirih tersebut tidak dimakan.

Para penari mengenakan baju yang biasa dipakai mempelai perempuan, yaitu baju adat yang disebut dengan baju kurung teluk belanga. Pada bagian kepala, terdapat mahkota yang dilengkapi dengan hiasan-hiasan berbentuk bunga dan pernak-pernih lain seperti dokoh, anting, gelang. Sementara bagian bawah tubuh para penari dibalut oleh kain songket berwarna cerah.

Tari persembahan dipentaskan dengan iringan musik Melayu yang bersumber dari perpaduan instrumen suara marwas, biola atau fill, gendang, gambus, dan akordion. Suara akordian merupakan unsur yang penting dalam musik Melayu, mengingat suara tersebut yang menjadi kekhasan musik Melayu.

Perwujudan tari persembahan makan sirih mencerminkan bagaimana orang melayu berusaha menghormati sekaligus menciptakan suasana kekeluargaan terhadap para tamu. Kandungan ajaran budi pekerti melayu ini mengisyaratkan pentingnya melestarikan tari persembahan makan sirih.



Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....