Warga Binaan Lapas Bagansiapiapi Muhasabah dan Perbaiki Diri

  • 29 Sep 2026 00:35 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Rokan Hilir - Masa menjalani pembinaan di lembaga pemasyarakatan dapat menjadi momentum untuk melakukan introspeksi dan menata kembali kehidupan. Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Tanah Putih, Muhammad Komaini, saat memberikan pembinaan keagamaan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi.

Pembinaan mengangkat tema “Muhasabah Diri”, dengan mengajak Warga Binaan melihat kembali perkataan, perbuatan, dan sikap yang telah dilakukan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kehidupan.

Muhammad Komaini menjelaskan, Senin 28 September 2026, muhasabah bukan sekadar menyadari kesalahan yang pernah dilakukan. Lebih dari itu, muhasabah merupakan proses untuk mengambil hikmah, memohon ampun kepada Allah SWT, serta membangun tekad agar kesalahan yang sama tidak kembali terulang. Menurutnya, masa pembinaan di Lapas sebaiknya dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk melakukan perubahan diri secara lebih mendalam. Masa lalu, katanya, tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus terpuruk, melainkan dapat dijadikan pelajaran dalam menata masa depan.

“Jadikan masa pembinaan ini sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan terus terjebak dalam penyesalan, tetapi jadikan kesalahan masa lalu sebagai pelajaran untuk memperbaiki kehidupan di masa yang akan datang, Kami mengingatkan Warga Binaan agar tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT. Setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah selama memiliki kemauan untuk menyadari kesalahan, bertaubat, dan bersungguh-sungguh memperbaiki diri," jelasnya.

Pesan tersebut mendapat respons positif dari Warga Binaan. Salah seorang Warga Binaan yang identitasnya disamarkan dengan nama Ruslan mengaku mendapatkan manfaat dari pembinaan keagamaan yang diberikan Penyuluh Agama Islam KUA Tanah Putih.

“Alhamdulillah, semenjak Penyuluh Agama Islam dari KUA Tanah Putih memberikan pembinaan, kami merasa lebih dekat dengan Allah dan semakin menyadari kesalahan yang pernah dilakukan. Kami juga banyak mendapatkan ilmu agama dan mulai belajar untuk memperbaiki diri. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil hikmah dari apa yang telah terjadi. Perbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, berdoa dan terus memperbaiki akhlak. Ketika hati semakin dekat kepada Allah, insyaallah akan tumbuh kekuatan untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan menjalani kehidupan dengan lebih baik,” ungkapnya.

Menurut Ruslan, pembinaan keagamaan tersebut menjadi pengingat bagi Warga Binaan agar tidak larut dalam masa lalu. Sebaliknya, mereka didorong untuk mempersiapkan diri agar ketika kembali ke tengah masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan sikap dan perilaku yang lebih baik.

Pembinaan keagamaan yang dilaksanakan secara rutin tersebut menjadi salah satu bentuk pendampingan spiritual PAI KUA Tanah Putih bagi Warga Binaan. Selain memperkuat pemahaman keagamaan, kegiatan ini memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki akhlak, serta membangun harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Muhammad Komaini berharap materi dan nasihat yang disampaikan dapat menjadi bekal bagi Warga Binaan selama menjalani masa pembinaan hingga nantinya kembali ke lingkungan masyarakat.

“Semoga setiap ilmu yang disampaikan dapat menjadi bekal bagi saudara-saudara kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan melihat diri hanya dari kesalahan masa lalu, tetapi lihatlah masa depan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tutupnya.

Pembinaan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Kementerian Agama melalui peran Penyuluh Agama Islam dalam menghadirkan pendampingan keagamaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, termasuk memberikan penguatan spiritual kepada Warga Binaan Pemasyarakatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....