Karhutla Tanjung Leban, Tim Gabungan Perkuat Pendinginan
- 24 Agt 2026 18:31 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Tim gabungan terus memperkuat upaya pemadaman dan pendinginan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Senin 24 Agustus 2026. Penanganan kebakaran melibatkan Polsek Bukit Batu bersama BPBD, TNI, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), Regdam Kecamatan Bandar Laksamana, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Tenggayun.
Kasi Humas Polres Bengkalis, Aipda Juliandi Bazrah, mengatakan penanganan dilakukan secara bersama-sama dengan mengutamakan pemutusan penyebaran api dan pendinginan untuk mencegah munculnya kembali titik api.
“Tim gabungan masih melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi. Kepala api sudah berhasil diputus, namun pendinginan terus dilakukan untuk memastikan bara di dalam lahan benar-benar padam,” ujar Juliandi.
Kegiatan penanganan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 1,5 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 0,9 hektare telah berhasil dilakukan pemadaman dan pendinginan.
Meski api utama telah berhasil dikendalikan, personel gabungan masih disiagakan di sejumlah titik. Hal ini dilakukan karena bara yang berada di dalam permukaan lahan, terutama pada kawasan yang terbakar, berpotensi kembali menjadi sumber api apabila tidak dilakukan pendinginan secara menyeluruh.
“Karena itu, setelah api utama berhasil diputus, personel tidak langsung meninggalkan lokasi. Pendinginan dan pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa dan berpotensi memicu kebakaran kembali,” kata Juliandi.
Sebanyak 37 personel dikerahkan dalam penanganan Karhutla tersebut. Mereka terdiri dari empat personel BPBD, delapan personel Polri, empat personel TNI, tujuh personel Manggala Agni, delapan anggota MPA Tanjung Leban, tiga personel Regdam Kecamatan Bandar Laksamana, serta tiga tenaga kesehatan dari Puskesmas Tenggayun.
Keterlibatan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam mendukung keselamatan personel selama berada di lokasi kebakaran. Tim medis disiagakan untuk memberikan pertolongan apabila terdapat petugas yang mengalami gangguan kesehatan selama proses pemadaman maupun pendinginan.
Kondisi di lokasi yang panas, disertai asap dan sisa bara, membuat personel harus bekerja secara bergantian serta memperhatikan kondisi fisik selama menjalankan tugas.
“Keselamatan personel menjadi perhatian. Dengan adanya tenaga kesehatan, kondisi petugas dapat dipantau dan pertolongan bisa segera diberikan apabila ada yang mengalami gangguan kesehatan,” jelas Juliandi.
Dalam proses penanganan, tim gabungan juga menghadapi kendala keterbatasan sumber air. Sejumlah embung yang berada di sekitar lokasi tidak memiliki persediaan air yang cukup untuk mendukung proses pemadaman dan pendinginan.
Kondisi tersebut membuat personel harus menggunakan air secara efektif sekaligus mencari sumber air alternatif yang dapat dimanfaatkan.
Juliandi mengatakan keterbatasan sumber air menjadi salah satu tantangan dalam penanganan Karhutla, khususnya ketika proses pendinginan membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan.
“Untuk pendinginan, ketersediaan air sangat penting. Saat ini personel berupaya menggunakan sumber air yang ada secara efektif dan terus berkoordinasi untuk mencari alternatif sumber air di sekitar lokasi,” ungkapnya.
Selain melakukan pemadaman dan pendinginan, personel juga melaksanakan pemantauan secara berkala terhadap area yang sebelumnya terbakar. Tim dibagi ke sejumlah titik agar proses pendinginan dapat dilakukan secara bersamaan dan lebih menyeluruh.
Koordinasi dengan pemerintah desa dan instansi terkait juga terus dilakukan, terutama untuk memetakan sumber air yang dapat digunakan apabila terjadi Karhutla di kawasan tersebut.
Menurut Juliandi, ketersediaan sumber air perlu menjadi perhatian bersama karena dapat mempercepat respons apabila terjadi kebakaran, sekaligus mendukung proses pendinginan pascakebakaran.
“Penguatan sumber air menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan di wilayah rawan Karhutla. Dengan sumber air yang memadai, proses pemadaman dan pendinginan bisa dilakukan lebih cepat dan maksimal,” katanya.
Sebelumnya, berdasarkan pemantauan dan verifikasi lapangan, ditemukan tiga titik panas atau hotspot di sekitar kawasan tersebut. Penanganan kemudian dilakukan secara bersama-sama oleh berbagai unsur dengan mengutamakan sinergitas dan keselamatan personel.
Polri bersama seluruh unsur terkait tidak hanya melakukan pemadaman, tetapi juga pendinginan, pemantauan pascakebakaran serta penguatan koordinasi terkait sumber air. Hingga Senin siang, kondisi di lokasi masih dalam tahap pendinginan dan pemantauan. Personel gabungan tetap disiagakan untuk mengantisipasi munculnya kembali bara api.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan. Jika menemukan adanya titik api atau asap, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani sedini mungkin,” pungkas Juliandi.
Situasi selama kegiatan penanganan berlangsung aman dan terkendali. Tim gabungan akan terus memantau kondisi lahan di Desa Tanjung Leban hingga dipastikan tidak ada lagi bara yang berpotensi menimbulkan kebakaran susulan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....