Masjid Harus Jadi Meeting Point Peradaban dan Pusat Pencerahan Umat

  • 30 Jun 2026 20:26 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Pekanbaru – Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid tidak boleh hanya dipahami sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual semata, tetapi harus berkembang menjadi meeting point peradaban, pusat pencerahan, penguatan umat, serta pengembangan ilmu pengetahuan.

Penegasan tersebut disampaikan saat meresmikan Masjid Amal Ikhlas Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau yang berlokasi di Jalan Sudirman, Pekanbaru, beberapa waktu lalu.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau Muliardi, menyampaikan pembangunan Masjid Amal Ikhlas merupakan hasil swadaya ASN Kementerian Agama, dukungan masyarakat, serta para donatur.

“Masjid Amal Ikhlas dibangun dari dana swadaya ASN Kementerian Agama, dukungan masyarakat, dan para donatur yang memiliki semangat yang sama dalam membangun rumah Allah,” ujarnya, Selasa 30 Juni 2026.

Ia berharap masjid tersebut dapat menjadi simbol penguatan integritas ASN Kementerian Agama dalam menjalankan tugas serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Sementara itu Menteri Agama RI, Nasarudin Umar, menyampaikan rasa syukur atas bertambahnya rumah Allah di pusat Kota Pekanbaru. Menurutnya, keberadaan Masjid Amal Ikhlas menjadi simbol lahirnya ruang baru bagi penguatan spiritual sekaligus pengembangan peradaban umat.

“Hari ini bertambah lagi rumah Allah di jantung Kota Pekanbaru. Bertambah lagi satu bintang kejora yang akan menerangi kehidupan umat. “Di mana ada masjid, di situ ada keberkahan. Di situ ada kerumunan malaikat, tempat berkumpulnya para hamba Allah. Masjid harus menjadi meeting point peradaban umat,” tegas Menag di hadapan jajaran Kementerian Agama, tokoh agama, dan tamu undangan.

Menag menekankan bahwa masjid idealnya tidak hanya ramai saat salat berjamaah, tetapi juga aktif sebagai pusat kegiatan intelektual, diskusi ilmiah, serta pengembangan wawasan keislaman. Ia menyebut meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap kajian keagamaan, termasuk pembahasan mukjizat Al-Qur’an, harus direspons dengan menghadirkan ruang edukasi yang memadai di lingkungan masjid.

“Kita perlu menghadirkan diskusi-diskusi ilmiah, menghadirkan para pakar, karena masyarakat saat ini semakin tertarik mendalami mukjizat Al-Qur’an. Masjid harus menjadi pusat pencerahan, pusat kecerdasan, dan pusat moderasi umat,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa fungsi masjid pada masa Rasulullah SAW tidak terbatas pada ibadah ritual, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan umat dalam berbagai aspek kehidupan sosial.

“Kalau kita melihat perjalanan Rasulullah SAW, beliau tidak hanya fokus pada ibadah ritual, tetapi juga memberikan perhatian besar pada penguatan dan pemberdayaan umat,” jelasnya.

Menutup arahannya, Menag menegaskan bahwa membangun masjid sejatinya adalah membangun peradaban umat yang berkelanjutan.

“Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan baginya istana di surga. Karena itu, membangun masjid bukan sekadar membangun bangunan, tetapi membangun peradaban,” pungkasnya.

Kegiatan peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pembukaan selubung nama masjid oleh Menteri Agama RI, dilanjutkan dengan peninjauan fasilitas masjid yang disiapkan untuk mendukung aktivitas ibadah, kajian keagamaan, dan pembinaan umat.

Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama sebagai ungkapan syukur atas hadirnya Masjid Amal Ikhlas yang diharapkan menjadi pusat pencerahan, penguatan moderasi beragama, serta meeting point peradaban umat di Provinsi Riau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....