Data Disdik Tercatat 3.011 Anak Putus Sekolah, Faktor Ekonomi Dominan
- 07 Mei 2026 12:44 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Angka putus sekolah di Kabupaten Bengkalis hingga tahun 2026 tercatat mencapai 3.011 orang. Meski masih tergolong tinggi, jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 3.500 orang.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis, Muthu Sally mengatakan, penurunan angka tersebut terjadi karena sebagian anak yang sebelumnya tercatat putus sekolah telah kembali melanjutkan pendidikan melalui program paket.
“Sebagian dari mereka yang sebelumnya tercatat putus sekolah hingga tahun 2025 lalu, kini sudah kembali menyelesaikan pendidikan melalui program paket,” ujar Muthu Sally kepada RRI, Kamis, 7 Mei 2026.
Ia menjelaskan, data tersebut bukan merupakan jumlah anak putus sekolah dalam satu tahun, melainkan data akumulasi selama sekitar sepuluh tahun terakhir. Pendataan dilakukan berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
“Pendataan diambil dari data Dapodik Pendidikan, yakni siswa yang sudah lulus SD maupun SMP tetapi tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya hingga saat ini,” jelasnya.
Menurut Muthu, angka putus sekolah dapat terus ditekan apabila para siswa kembali melanjutkan pendidikan formal maupun menyelesaikannya melalui ujian paket.
Ia menilai keberadaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sangat membantu dalam mengurangi angka anak putus sekolah di Bengkalis.
“Peran PKBM sangat membantu untuk mengurangi angka putus sekolah. Kita berharap masyarakat dapat membentuk lebih banyak PKBM, terutama di daerah padat penduduk, agar anak-anak putus sekolah bisa menyelesaikan pendidikan melalui program paket A, B maupun C,” katanya.
Muthu mengungkapkan, faktor ekonomi keluarga masih menjadi penyebab utama tingginya angka putus sekolah di daerah tersebut. Banyak anak memilih bekerja untuk membantu perekonomian keluarga dibandingkan melanjutkan pendidikan.
“Faktor ekonomi masih paling dominan. Sebagian besar anak memilih membantu penghasilan keluarga dengan bekerja daripada melanjutkan sekolah,” ungkapnya.
Selain faktor ekonomi, ada pula siswa yang berhenti sekolah karena permasalahan di lingkungan pendidikan dan akhirnya tidak melanjutkan sekolah kembali.
“Ada juga yang putus sekolah karena diberhentikan akibat bermasalah di sekolah, lalu tidak mau melanjutkan lagi,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....