Interpreter Polbeng Sukses Kawal Diskusi Internasional
- 19 Feb 2026 16:53 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Politeknik Negeri Bengkalis (Polbeng) kembali menunjukkan eksistensinya di kancah internasional melalui kontribusi nyata dalam forum global bertema perubahan iklim dan pelestarian mangrove yang digelar di Bengkalis pada Februari 2026. Dua dosen Bahasa Inggris Polbeng, Agnes Arum Budiana dan Arita Destianingsih, dipercaya mengemban peran sebagai penerjemah lisan (interpreter) dalam dua agenda internasional tersebut.
Kegiatan pertama bertajuk “Pertukaran Pembelajaran Perlindungan dan Rehabilitasi Mangrove dalam Mendukung Country Proposition Indonesia”. Agenda ini diselenggarakan oleh Global Mangrove Alliance (GMA) Indonesia Chapter bersama LPHD Desa Teluk Pambang, dengan menghadirkan narasumber dari Amerika Serikat, Spanyol, Belanda, dan Filipina.
“Kepercayaan yang diberikan kepada dosen kami sebagai interpreter dalam dua forum internasional ini merupakan bentuk pengakuan atas kompetensi akademik dan profesionalisme SDM Polbeng. Kami berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam isu-isu strategis global, termasuk perubahan iklim dan pelestarian lingkungan pesisir.” Jelas Agnes Arum, Kamis, 19 Februari 2026.
Dalam forum tersebut, peran interpreter menjadi elemen kunci dalam menjembatani komunikasi antarnegara. Agnes dan Arita memastikan setiap paparan materi, diskusi panel, hingga sesi tanya jawab dapat dipahami secara setara oleh seluruh peserta lintas bahasa. Ketepatan menerjemahkan istilah teknis terkait ekosistem pesisir, kebijakan lingkungan, serta skema pendanaan menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran forum.
Pembahasan forum menitikberatkan pada strategi perlindungan dan rehabilitasi mangrove, mencakup aspek kebijakan, dukungan pembiayaan, manfaat ekologis, serta dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat pesisir. Bengkalis dipilih sebagai lokasi pembelajaran karena dinilai berhasil menghadirkan praktik konservasi mangrove berbasis kolaborasi multipihak. Desa Teluk Pambang secara khusus diapresiasi karena mampu menekan laju degradasi mangrove secara signifikan melalui keterlibatan aktif masyarakat.
“Menjadi interpreter dalam forum internasional bukan sekadar menerjemahkan bahasa, tetapi juga memastikan pesan, istilah teknis, dan konteks kebijakan dapat dipahami secara tepat oleh seluruh peserta. Akurasi dan netralitas menjadi prinsip utama dalam menjalankan tugas ini,” katanya.
Tidak hanya itu, Agnes dan Arita juga dijadwalkan menjadi interpreter dalam Workshop ASEAN–UK Partnering for Accelerated Climate Transition (PACT) Green Transition Fund (GTF) yang akan berlangsung pada pertengahan Februari 2026 di Bengkalis. Penugasan ini semakin menegaskan kepercayaan terhadap kapasitas dosen Polbeng dalam mendukung komunikasi lintas bahasa pada forum internasional yang menuntut akurasi, ketelitian, serta pemahaman konteks isu transisi hijau dan perubahan iklim.
“Forum ini memberikan pengalaman berharga karena mempertemukan perspektif global dengan praktik lokal. Kami merasa bangga dapat berperan dalam menjembatani komunikasi dan mendukung kolaborasi lintas negara demi keberlanjutan ekosistem mangrove dan transisi hijau. Peran interpreter sangat krusial dalam forum internasional seperti ini. Dukungan dari Polbeng membantu memastikan transfer pengetahuan berjalan efektif, sehingga kolaborasi yang terbangun benar-benar dapat ditindaklanjuti secara konkret di lapangan,” tutur Arita Destianingsih.
Keterlibatan dosen Polbeng dalam dua agenda global tersebut menjadi wujud kontribusi nyata institusi dalam menjembatani pengetahuan internasional dengan praktik lokal. Melalui peran interpreter yang profesional, Polbeng turut memastikan pertukaran gagasan, praktik baik, dan rencana tindak lanjut dapat tersampaikan secara efektif, demi mendukung perlindungan lingkungan pesisir dan pembangunan berkelanjutan di tingkat regional maupun global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....