Autofagi, dan Esofagus : Mekanisme “Sel Memakan Bagian Tubuh yang Rusak" saat Puasa

  • 27 Feb 2026 09:17 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Setiap hari, sel-sel kita menghasilkan sampah biologis protein rusak, sel mati, dan komponen usang yang menghambat kinerja tubuh. Seperti komputer, makin banyak cache, makin berat jalannya.

Sayangnya, tidak ada petugas yang dengan ikhlas datang membersihkannya. Penelitian ilmuwan Jepang telah membuka wawasan baru tentang bagaimana puasa bukan hanya sekadar ibadah, tetapi juga memicu mekanisme biologis penting di dalam tubuh manusia. Proses yang dimaksud dikenal sebagai autophagy, yakni keadaan di mana sel-sel tubuh “membersihkan” dan mendaur ulang bagian-bagian yang sudah rusak atau tidak berguna.

Dikutip dari rmol.id, Mekanisme autophagy pertama kali dijelaskan secara rinci oleh ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, yang menerima Hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 2016 atas penelitiannya. Ia menunjukkan bagaimana sel-sel hidup menghasilkan sistem pembersihan internal untuk mendaur ulang komponen sel yang rusak dan mengubahnya menjadi energi atau bahan baru.

Istilah autophagy berasal dari bahasa Yunani yang berarti “auto” (sendiri) dan “phagy” (makan), yang secara harfiah menggambarkan sel yang “memakan dirinya sendiri” ketika kekurangan nutrisi.

Saat tubuh berada dalam kondisi puasa dan tidak mendapatkan makanan dalam jangka waktu tertentu, kadar energi dari luar menurun. Dalam situasi ini, tubuh beralih ke sumber energi internal dan mengaktifkan autophagy untuk mempertahankan fungsi sel. Sel-sel tubuh mulai memecah dan mendaur ulang protein, organel usang, serta komponen lain yang rusak, sehingga membantu mempertahankan kesehatan sel secara keseluruhan.

Meski proses ini kadang digambarkan sebagai “sel saling memakan dirinya sendiri”, sebenarnya mekanisme autophagy lebih mirip pembersihan internal yang bertujuan memperbaiki dan meremajakan sel, bukan saling menghancurkan seluruh sel secara acak.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Penelitian menunjukkan bahwa autophagy berperan penting dalam menjaga homeostasis sel, mendukung perbaikan jaringan, dan mungkin berkontribusi pada pencegahan beberapa penyakit degeneratif jika mekanisme ini bekerja secara optimal. Proses ini juga dipelajari dalam konteks metabolisme tubuh, terutama bagaimana tubuh menyesuaikan respon terhadap kekurangan makanan saat puasa.

Meskipun sebagian besar bukti berasal dari studi pada sel dan hewan, penelitian ini telah memberikan wawasan penting tentang hubungan antara puasa dan kesehatan sel. Penemuan tersebut juga mendorong lebih banyak penelitian ilmiah untuk memahami dampaknya pada kesehatan manusia

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....