Menhut: Tanjung Leban Jadi Contoh Jaga Gambut dari Karhutla

  • 30 Sep 2026 16:28 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni menegaskan pentingnya memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), terutama di kawasan gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi saat kondisi lahan mengering.

Hal itu disampaikan Raja Juli saat melakukan kunjungan kerja ke Rumah Runding Restorasi Gambut dan Mangrove di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Rabu 30 September 2026.

Raja Juli mengatakan, kondisi hotspot di Provinsi Riau saat ini relatif rendah dibandingkan sejumlah daerah lainnya. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat seluruh pihak lengah terhadap ancaman Karhutla.

“Pencegahan sangat penting untuk menangani Karhutla. Hari ini kita belum baik-baik saja,” tegas Raja Juli.

Menurutnya, keberhasilan menjaga Riau dari ancaman Karhutla tidak terlepas dari kerja bersama pemerintah, aparat, masyarakat dan dunia usaha.

Ia menilai praktik yang dilakukan masyarakat Desa Tanjung Leban dalam menjaga ekosistem gambut menjadi contoh nyata bahwa pencegahan Karhutla dapat dilakukan secara konkret di tingkat masyarakat.

“Apa yang kita lihat di Rumah Runding Restorasi Gambut ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan itu adalah sesuatu yang riil,” ujarnya.

Gambut Harus Tetap Basah

Raja Juli menekankan, salah satu kunci pencegahan Karhutla di lahan gambut adalah menjaga tata air. Karena itu, sekat kanal harus dirawat dan dikelola secara berkelanjutan agar kondisi gambut tetap basah.

Pengelolaan tata air tersebut penting untuk mencegah gambut mengering yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.

“Di sini adalah laboratorium hidup,” katanya.

Menurut Raja Juli, pengelolaan gambut tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat lokal yang memahami karakter wilayah, pemerintah dan dunia usaha harus duduk bersama membangun sistem pengelolaan gambut.

“Masyarakat lokal di Desa Tanjung Leban ini memiliki pengalaman terbaik yang luar biasa. Pelajarannya adalah semua harus bekerja sama. Masyarakat, pemerintah dan pengusaha harus terlibat bersama, berkolaborasi dan berkomunikasi dalam mengatur sistem pengelolaan gambut,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang selama ini berperan dalam menjaga ekosistem gambut dan melakukan pencegahan Karhutla di Riau.

“Alhamdulillah Riau saat ini hotspot-nya terendah. Saya kira ini berkat kerja keras seluruh pihak yang bahu-membahu dan bergotong royong,” ujarnya.

Kasmarni Dorong Jadi Model Pengelolaan Gambut

Sementara itu, Bupati Bengkalis Kasmarni berharap kunjungan Menteri Kehutanan menjadi momentum untuk memperkuat pengelolaan gambut di Kabupaten Bengkalis.

Kasmarni menilai praktik yang dilakukan di Rumah Runding Restorasi Gambut dan Mangrove Tanjung Leban dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola kawasan gambut sekaligus mencegah Karhutla.

“Mudah-mudahan dengan adanya kunjungan kerja ini bisa menjadi salah satu contoh daerah kabupaten maupun provinsi bagaimana cara penanganan gambut, termasuk tanaman apa yang cocok,” kata Kasmarni.

Ia berharap berbagai pemaparan dan praktik yang disampaikan para pakar di kawasan tersebut dapat diterapkan atau direplikasi di wilayah lainnya.

“Tadi sama-sama kita menyaksikan apa yang dilakukan dan disampaikan oleh pakar-pakar. Kami berharap bisa direplikasikan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, masyarakat turut menyampaikan aspirasi agar kawasan Rumah Runding Restorasi Gambut dan Mangrove Tanjung Leban memiliki gerbang khusus sebagai identitas kawasan.

Masyarakat juga mengusulkan pembangunan penanda atau tugu di lokasi pohon pertama yang ditanam sebagai bagian dari sejarah restorasi gambut di kawasan tersebut.

Menanggapi aspirasi tersebut, Kasmarni menyatakan akan mengupayakannya.

“Insyaallah tahun ini,” jawab Kasmarni.

Tinjau Bintangor, Jelutong hingga Sekat Kanal

Dalam kunjungan tersebut, Raja Juli Antoni didampingi Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, Bupati Bengkalis Hj. Kasmarni, Kapolres Bengkalis AKBP Eko Rubiyanto serta sejumlah pejabat lainnya.

Rombongan meninjau pohon endemi pertama yang ditanam di kawasan tersebut, yakni Bintangor dan Jelutong. Mereka juga melihat langsung kondisi permukaan air gambut serta infrastruktur sekat kanal yang menjadi bagian penting dalam menjaga kelembapan lahan gambut.

Kunjungan tersebut menjadi gambaran praktik pengelolaan ekosistem gambut berbasis masyarakat yang mengedepankan pencegahan Karhutla melalui pengelolaan tata air dan kolaborasi lintas sektor.

Bagi kawasan gambut, menjaga lahan tetap basah bukan hanya bagian dari pemulihan ekosistem, tetapi juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kekeringan yang dapat memicu kebakaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....