Kabuto, Makanan Tradisional Khas Muna dan Buton dari Singkong

  • 12 Jul 2026 16:28 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Kabuto merupakan salah satu makanan tradisional khas masyarakat Muna dan Buton di Provinsi Sulawesi Tenggara. Meski namanya terdengar mirip dengan istilah dari Jepang, Kabuto sama sekali tidak memiliki kaitan dengan budaya Negeri Sakura.

Hidangan ini justru menjadi bagian dari warisan kuliner lokal yang telah dikonsumsi masyarakat secara turun-temurun. Keunikan Kabuto terletak pada bahan bakunya, yaitu singkong atau ubi kayu yang dikeringkan hingga benar-benar kehilangan kadar air.

Dalam proses penyimpanannya, singkong kering dibiarkan dalam waktu yang cukup lama hingga mengalami proses fermentasi alami yang membentuk jamur tertentu. Proses inilah yang menghasilkan aroma dan cita rasa khas yang menjadi ciri utama Kabuto.

Bagi masyarakat Muna dan Buton, semakin lama singkong disimpan dalam kondisi kering, cita rasa Kabuto dipercaya akan semakin nikmat. Setelah dimasak, teksturnya menjadi lembut dengan aroma fermentasi yang khas. Hidangan ini biasanya disajikan bersama kelapa parut dan ikan asin goreng sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih yang menggugah selera.

Dikutip dari Perpustakaan Digital budaya Indonesia, Kabuto Selain dikenal karena rasanya yang unik, proses pembuatan Kabuto juga relatif sederhana dan masih mempertahankan cara tradisional.

Bahan-bahan

  • Singkong kering secukupnya
  • Air secukupnya
  • Kelapa parut secukupnya
  • Ikan asin goreng sebagai pelengkap (opsional)

Cara Membuat

  1. Potong-potong singkong kering sesuai ukuran yang diinginkan.
  2. Rendam atau perciki dengan air secukupnya agar teksturnya sedikit lunak sebelum dimasak.
  3. Masukkan singkong ke dalam panci, lalu rebus hingga benar-benar matang selama kurang lebih satu jam.
  4. Setelah matang, angkat dan tiriskan.
  5. Sajikan Kabuto dengan taburan kelapa parut segar.
  6. Tambahkan ikan asin goreng sebagai lauk pendamping agar cita rasanya semakin gurih.

Kabuto umumnya dinikmati sebagai makanan pokok pengganti nasi, terutama pada masa ketika persediaan beras terbatas. Hingga kini, makanan tradisional tersebut masih dapat dijumpai di sejumlah desa pesisir di Kabupaten Muna dan wilayah Kepulauan Buton.

Dari sisi kandungan gizi, Kabuto berbahan dasar singkong kering yang memiliki nilai gizi lebih rendah dibandingkan singkong segar maupun beras. Meski demikian, makanan ini memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi karena menjadi bagian dari strategi masyarakat dalam memanfaatkan bahan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Di tengah semakin beragamnya pilihan makanan modern, Kabuto tetap menjadi simbol ketahanan pangan masyarakat Muna dan Buton. Melestarikan kuliner tradisional seperti Kabuto tidak hanya berarti menjaga cita rasa khas daerah, tetapi juga merawat warisan budaya yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Tenggara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....