Sepotong Kunafa, Manisnya Jeda di Kota Suci

  • 01 Feb 2026 05:56 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Mekah - Di antara langkah kaki yang tak henti menuju Masjidil Haram, doa-doa yang lirih, dan rindu yang perlahan luruh di hadapan Ka’bah, ada satu jeda kecil yang kerap dicari jemaah umroh: menikmati sepotong kunafa hangat di Makkah.

Malam itu, udara Makkah terasa sejuk. Seusai thawaf dan sa’i yang menguras tenaga, aroma mentega dan gula hangat menyeruak dari deretan toko manisan di sekitar Masjidil Haram. Kunafa, kudapan khas Timur Tengah tersaji sederhana, namun selalu berhasil menarik langkah jamaah yang lelah, termasuk jamaah Indonesia yang ingin sekadar duduk, menghela napas, dan menikmati waktu.

Kunafa disajikan dalam keadaan hangat. Lapisan adonan tipis menyerupai bihun dipanggang hingga keemasan, diisi keju lembut yang meleleh saat dibelah, lalu disiram sirup manis atau madu. Perpaduan rasa gurih dan manis itu terasa begitu pas setelah ibadah panjang, menghangatkan tubuh, sekaligus menenangkan hati.

Bagi banyak jamaah, kunafa bukan sekadar makanan penutup. Ia menjadi teman sunyi di tengah perjalanan spiritual. Sepotong demi sepotong dinikmati sambil memandang lalu lalang jamaah dari berbagai penjuru dunia, dengan mata yang masih menyimpan haru dan syukur karena bisa menjejakkan kaki di Tanah Suci.

Kunafa sendiri merupakan makanan tradisional Timur Tengah yang telah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Di Makkah, kudapan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan malam kota suci. 

Gerai-gerai kecil hingga toko manisan ternama selalu ramai, terutama selepas Isya hingga menjelang dini hari. Setiap tempat punya ciri khas, namun satu hal yang sama: kunafa selalu dinikmati dalam keadaan hangat, seolah mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak.

Ada jamaah yang menikmatinya sambil tersenyum, ada pula yang terdiam lama. Rasa manis kunafa kerap dimaknai sebagai simbol kebahagiaan bahwa di balik lelahnya ibadah, selalu ada hadiah kecil dari perjalanan iman. Bahkan, tak sedikit jamaah yang berkata, kenangan tentang kunafa di Makkah terasa lebih membekas dibandingkan saat mencicipinya di tempat lain.

Di Kota Suci, kunafa bukan hanya soal rasa. Ia adalah bagian dari perjalanan. Tentang tubuh yang lelah namun hati yang penuh, tentang jeda singkat yang justru membuat langkah kembali ringan. Dan saat akhirnya meninggalkan Makkah, banyak jamaah menyadari manisnya kunafa akan selalu mengingatkan pada malam-malam tenang di dekat Baitullah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....