Sejarah Tempe Makanan Asli Indonesia yang Melegenda
- 19 Mei 2025 14:41 WIB
- Bengkalis
KBRN, Bengkalis: Tempe merupakan salah satu makanan tradisional khas Indonesia yang telah menjadi bagian dari budaya kuliner Nusantara sejak ratusan tahun lalu. Terbuat dari fermentasi kedelai menggunakan kapang Rhizopus, tempe dikenal sebagai sumber protein nabati yang tinggi, murah, dan bergizi. Selain kandungan proteinnya yang melimpah, tempe juga mengandung serat, vitamin B kompleks, zat besi, kalsium, serta senyawa antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Menariknya, tempe bukan hanya populer di dalam negeri, tetapi juga telah diakui secara internasional sebagai superfood karena manfaat kesehatannya. Proses fermentasi membuat nutrisi dalam kedelai lebih mudah dicerna dan meningkatkan kandungan zat gizi bioaktif, yang mendukung kesehatan pencernaan dan daya tahan tubuh.
Dengan cita rasa gurih yang khas dan tekstur padat, tempe sangat fleksibel diolah menjadi berbagai jenis hidangan, mulai dari gorengan sederhana hingga olahan modern yang kreatif. Tak heran jika tempe terus menjadi pilihan makanan yang disukai berbagai kalangan dan generasi.
Sejarah Tempe dikutip dari laman wikipedia, berbeda dengan berbagai makanan berbahan dasar kedelai yang umumnya berasal dari Tiongkok atau Jepang, tempe merupakan makanan tradisional yang asli berasal dari Indonesia. Bukti sejarah menunjukkan bahwa tempe pertama kali dibuat dan dikonsumsi oleh masyarakat di daerah Bayat, Klaten, Jawa Tengah, sekitar awal abad ke-18, yakni sekitar tahun 1700. Makanan ini telah menjadi bagian dari kebudayaan kuliner masyarakat Jawa sejak lama, khususnya dalam tradisi konsumsi makanan sehari-hari.
Keberadaan tempe dalam budaya Jawa juga tercatat dalam manuskrip kuno Serat Centhini, sebuah karya sastra Jawa klasik yang ditulis pada awal abad ke-19 dan menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa pada abad ke-16. Dalam naskah tersebut, tempe disebut dalam berbagai konteks masakan, seperti pada hidangan jae santen tempe (tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan (hidangan tempe dengan kelapa sangrai), yang menunjukkan bahwa tempe sudah dikenal luas dan menjadi bagian penting dalam pola makan masyarakat Jawa pada masa itu.
Secara etimologis, kata "tempe" diduga berasal dari istilah dalam bahasa Jawa Kuno, yaitu tumpi, yang merujuk pada makanan berwarna putih yang terbuat dari tepung sagu. Karena tempe segar memiliki warna dan tampilan yang mirip dengan tumpi, kemungkinan besar nama "tempe" diambil dari kemiripan tersebut.
Selain catatan dalam manuskrip dan sastra, referensi tertulis mengenai tempe juga ditemukan dalam sebuah kamus Jawa-Belanda yang terbit pada tahun 1875, menandakan bahwa makanan ini telah cukup dikenal hingga masa kolonial.
Beberapa ahli juga mengaitkan kemunculan tempe dengan masa tanam paksa (cultuurstelsel) pada abad ke-19 di Jawa. Pada masa itu, masyarakat dipaksa menanam tanaman ekspor, seperti tebu dan kopi, sehingga untuk kebutuhan pangan mereka mengandalkan hasil dari pekarangan, seperti singkong, ubi, dan kedelai. Dalam kondisi terbatas tersebut, muncul inovasi fermentasi kedelai dengan menggunakan kapang, awalnya dari jenis Aspergillus, sebelum berkembang menjadi fermentasi dengan kapang Rhizopus yang digunakan dalam produksi tempe saat ini.
Seiring waktu, teknik pembuatan tempe menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, sejalan dengan perpindahan dan migrasi masyarakat Jawa ke daerah-daerah lain. Kini, tempe dikenal secara global sebagai salah satu makanan berbasis nabati yang kaya gizi dan ramah lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....